Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Senin, 29 Maret 2021

 


Ulang Tahun dan Do’a yang Terbaik

Oleh, Heriyanto Helmi

 

 

Selasa pagi tanggal 30 Maret 2021, ketika penulis  habis menyelesaikan 2 jam pelajaran pertama, terdengar suara riuh beberapa guru yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada guru bahasa inggris SMPN 4 Gantung Bapak Rahmadany Saputra, S.Pd. rupanya beliau berulang tahun yang ke 31 hari ini. “pimpin do’a pak heri” ucap bu septi guru seni budaya SMPN 4 Gantung dengan suara lantang. Gelak tawa dan suasana heboh penuh  kekeluargaan bertambah heboh ketika bu kepala sekolah membawakan dua buah kue ulang tahun kepada 2 orang guru Bapak Rahmadany Saputra,S.Pd. dan Bapak Firgian Kusuma Putra,S.Pd. yang berulang tahun sebelumnya.

            Berbagai ucapan dari rekan-rekan guru mulai dari selamat ulang tahun, semoga panjang umur, tetap sehat dan yang tak kalah pentingnya ucapan yang paling penting yaitu “semoga cepat dapat jodoh”. Suasana haru bercampur suka ketika semua guru berkumpul di ruang guru dan semua mengucapkan selama, terlihat menetes air mata dari salah satu guru yang berulang tahun. Gelak tawa yang sangat keras menandakan begitu kompak dan indahnya kebersamaan yang ditunjukan oleh warga sekolah.

            Moment seperti ini, sudah terjalin sejak lama dan rutin dilakukan setiap salah satu guru berulang tahun di SMPN 4 Gantung.  Penulis mengutip kata motivasi dari buku motivasi hidup ditulis oleh Agun Setiabudi ( 2016:14) Hidup ini dibentuk oleh momen-momen kecil dimana saat kita lihat kembali apa yang telah kita lalui, itu akan menjadi momen yang istimewa. Hari kelahiran kita, hari dimana kita bertemu, hari dimana kita menemukan kecocokan dan memutuskan menjadi sahabat…dapat dikatakan momen-momen kecil. Tapi, pengaruhnya akan bertahan seumur hidup. Kata motivasi inilah yang menjadi penyemangat kita untuk terus semangat dan berkarya lagi seiring bertambahnya usia.

            Ucapan selamat ulang tahun pasti akan diucapkan dan diterima ketika kita atau orang terdekat kita sedang merayakan hari ulang tahun. Umumnya, ucapan selamat ulang tahun juga disertai dengan doa untuk kebahagiaan, kesehatan, dan  bertambahnya rezeki di waktu yang akan datang. Hari ulang tahun juga dapat dimaknai sebagai hari bahagia karena kita dapat dikatakan semakin dewasa dengan berbagai tanggung jawab yang semakin bertambah pula. Hari ulang tahun dianggap sebagai saat yang istimewa sebab hanya ada satu kali dalam satu tahun.

            Ucapan ulang tahun untuk seorang sahabat merupakan bentuk kasih sayang kepada seseorang yang sudah memberikan waktunya untuk memberikan ilmu pelajaran hidup sehingga masa depan menjadi sangat indah dengan ilmu yang diperolehSebagai kata penutup, penulis mengucapkan ulang tahun hadir setiap tahun, tapi teman sepertimu hanya datang sekali dalam seumur hidup. Kami sangat senang kau datang mewarnai kehidupan. Selamat ulang tahun Bapak Rahmadany Saputra,S.Pd. dan Bapak Firgian Kusuma Putra,S.Pd. Semoga panjang umur dan tetap sehat dan selalu menjadi teman terbaik! Aamiin

 

Senin, 01 Maret 2021

                                  Berani Menjadi GURU, Jangan Berhenti Ber GURU

Oleh,

Heriyanto Helmi, S.H.I.

Guru SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur

 

 

Menjadi seorang guru tidak cukup hanya memposisikan diri sebagai pengajar (mengajarkan anak didik), tetapi juga menjadi pelajar (siap untuk belajar). Ungkapan ini merupakan hasil refleksi saya selama kurang lebih sepuluh tahun menjadi seorang guru di tempat yang berbeda. Tentu saja waktu ini tidak terhitung dengan praktek mengajar selama kuliah dulu. Setidaknya refleksi ini yang mendorong saya untuk berani menyampaikan sekaligus membagi gagasan terutama tentang posisi ideal seorang guru saat ini, terutama dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Pedagog terkemuka bernama Paulo Freire mengemukakan konsep pendidikan “hadap-masalah”. Konsep ini didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya, ekonomi dan politik. Konsep pendidikan ini juga lahir sebagai salah satu bentuk kritikan terhadap pendidikan model “gaya bank”. Di mana siswa atau anak didik memposisikan diri sebagai kelompok pasif, yang hanya bersedia mengkonsumsi setiap pernyataan yang disampaikan oleh guru. Apa yang ditulis oleh Paulo Freire di atas, sengaja saya kutip sebagai langkah awal dalam menelaah realitas pendidikan saat ini, terutama pola interaksi antara guru dan murid. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tugas pokok seorang guru adalah mengajar.

Guru mengajar berarti ia mentransferkan ilmu yang sudah ia pelajari sebelumnya kepada para siswa. Mengajar tidak hanya mentransferkan ilmu saja, melainkan juga sikap dan perilaku (pendidikan karakter) sehingga bisa diteladani oleh para siswa. Di sini seorang guru harus menjadi role of model bagi para siswa. Mengajar juga berarti mendidik, mengarahkan dan menuntun para siswa berjalan pada koridor yang sesuai dengan aturan yang sudah disepakati secara bersama. Tentu kita pernah mendengar komentar lepas bahwa guru adalah orang tua kedua dari para siswa di sekolah. Karena ia adalah orang tua, maka rasa kasih sayang harus dimainkan oleh seorang guru di lingkungan sekolah. Lebih lanjut, guru mengajar tidak serta merta memposisikan diri sebagai tokoh yang otoriter. Menganggap diri yang paling benar dan sangat kaku bahkan anti untuk menerima saran dari para siswa. Guru dalam tugasnya sebagai pengajar harus siap dan bersedia untuk menerima kritikan. Di sinilah letak kebijaksanaan seorang guru. Bahkan pada titik inilah konsep guru belajar diterapkan. Seorang guru memiliki sikap lapang dada dan kemauan kuat untuk belajar dari orang lain, khususnya dari para siswa. Kesediaan untuk belajar dari orang lain (siswa) mencerminkan adanya pendidikan partisipatif dalam ruang sekolah. Artinya seorang guru tidak hanya menjadi pengajar tetapi juga siap untuk diajar.

Terkait hal ini, baiklah kita mengutip kata-kata dari Albert Einstein yang menyatakan bahwa: di dunia ini tidak ada orang yang bodoh dan yang pintar. Yang ada hanyalah orang yang lebih dahulu tahu dan yang kemudian tahu. Apa yang saya uraikan di atas merupakan sesuatu yang diidealkan untuk dilakukan oleh seorang guru. Tetapi dalam prakteknya memang sulit. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor: Pertama, adanya sikap gengsi yang ditampilkan oleh seorang guru. Gengsi dalam arti tidak mau belajar dari orang lain, dalam konteks ini adalah siswa. Kedua, ada perasaan takut yang dialami oleh para siswa untuk menyampaikan gagasan atau pendapat tatkala gurunya salah atau keliru menjelaskan sesuatu. Perasaan takut ini juga sebenarnya tidak terlepas dari konstruksi sosial yang melekat dalam diri siswa tentang sosok guru yang sangat ditakuti. Atau pun juga perasaan takut lainnya seperti tidak mendapatkan nilai baik jika saya memprotes guru. Ini merupakan bentuk ketakutan yang terkontaminasi dalam diri seorang siswa.Untuk bisa keluar dari zona atau situasi tersebut, sosok guru harus melihat anak didiknya sebagai teman. Teman dalam artian saling berbagi ilmu, menghargai pendapat dan bersedia untuk mengkritik dan dikritik. Di samping itu, seorang guru harus berani untuk memposisikan diri bukan hanya sebagai pengajar melainkan juga menjadi pelajar bagi para siswa. Hubungan ideal seperti ini bertujuan untuk mengurangi gap atau kesenjangan dalam hal interaksi antara guru dan murid. Berani menjadi guru dan jangan berhenti berguru merupakan realitas yang sangat ideal untuk dipraktekan di sekolah saat ini.

 

 


Berani Menjadi GURU, Jangan Berhenti Ber GURU

Oleh,

Heriyanto Helmi, S.H.I.

Guru SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur

 

 

Menjadi seorang guru tidak cukup hanya memposisikan diri sebagai pengajar (mengajarkan anak didik), tetapi juga menjadi pelajar (siap untuk belajar). Ungkapan ini merupakan hasil refleksi saya selama kurang lebih sepuluh tahun menjadi seorang guru di tempat yang berbeda. Tentu saja waktu ini tidak terhitung dengan praktek mengajar selama kuliah dulu. Setidaknya refleksi ini yang mendorong saya untuk berani menyampaikan sekaligus membagi gagasan terutama tentang posisi ideal seorang guru saat ini, terutama dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Pedagog terkemuka bernama Paulo Freire mengemukakan konsep pendidikan “hadap-masalah”. Konsep ini didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya, ekonomi dan politik. Konsep pendidikan ini juga lahir sebagai salah satu bentuk kritikan terhadap pendidikan model “gaya bank”. Di mana siswa atau anak didik memposisikan diri sebagai kelompok pasif, yang hanya bersedia mengkonsumsi setiap pernyataan yang disampaikan oleh guru. Apa yang ditulis oleh Paulo Freire di atas, sengaja saya kutip sebagai langkah awal dalam menelaah realitas pendidikan saat ini, terutama pola interaksi antara guru dan murid. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tugas pokok seorang guru adalah mengajar.

Guru mengajar berarti ia mentransferkan ilmu yang sudah ia pelajari sebelumnya kepada para siswa. Mengajar tidak hanya mentransferkan ilmu saja, melainkan juga sikap dan perilaku (pendidikan karakter) sehingga bisa diteladani oleh para siswa. Di sini seorang guru harus menjadi role of model bagi para siswa. Mengajar juga berarti mendidik, mengarahkan dan menuntun para siswa berjalan pada koridor yang sesuai dengan aturan yang sudah disepakati secara bersama. Tentu kita pernah mendengar komentar lepas bahwa guru adalah orang tua kedua dari para siswa di sekolah. Karena ia adalah orang tua, maka rasa kasih sayang harus dimainkan oleh seorang guru di lingkungan sekolah. Lebih lanjut, guru mengajar tidak serta merta memposisikan diri sebagai tokoh yang otoriter. Menganggap diri yang paling benar dan sangat kaku bahkan anti untuk menerima saran dari para siswa. Guru dalam tugasnya sebagai pengajar harus siap dan bersedia untuk menerima kritikan. Di sinilah letak kebijaksanaan seorang guru. Bahkan pada titik inilah konsep guru belajar diterapkan. Seorang guru memiliki sikap lapang dada dan kemauan kuat untuk belajar dari orang lain, khususnya dari para siswa. Kesediaan untuk belajar dari orang lain (siswa) mencerminkan adanya pendidikan partisipatif dalam ruang sekolah. Artinya seorang guru tidak hanya menjadi pengajar tetapi juga siap untuk diajar.

Terkait hal ini, baiklah kita mengutip kata-kata dari Albert Einstein yang menyatakan bahwa: di dunia ini tidak ada orang yang bodoh dan yang pintar. Yang ada hanyalah orang yang lebih dahulu tahu dan yang kemudian tahu. Apa yang saya uraikan di atas merupakan sesuatu yang diidealkan untuk dilakukan oleh seorang guru. Tetapi dalam prakteknya memang sulit. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor: Pertama, adanya sikap gengsi yang ditampilkan oleh seorang guru. Gengsi dalam arti tidak mau belajar dari orang lain, dalam konteks ini adalah siswa. Kedua, ada perasaan takut yang dialami oleh para siswa untuk menyampaikan gagasan atau pendapat tatkala gurunya salah atau keliru menjelaskan sesuatu. Perasaan takut ini juga sebenarnya tidak terlepas dari konstruksi sosial yang melekat dalam diri siswa tentang sosok guru yang sangat ditakuti. Atau pun juga perasaan takut lainnya seperti tidak mendapatkan nilai baik jika saya memprotes guru. Ini merupakan bentuk ketakutan yang terkontaminasi dalam diri seorang siswa.Untuk bisa keluar dari zona atau situasi tersebut, sosok guru harus melihat anak didiknya sebagai teman. Teman dalam artian saling berbagi ilmu, menghargai pendapat dan bersedia untuk mengkritik dan dikritik. Di samping itu, seorang guru harus berani untuk memposisikan diri bukan hanya sebagai pengajar melainkan juga menjadi pelajar bagi para siswa. Hubungan ideal seperti ini bertujuan untuk mengurangi gap atau kesenjangan dalam hal interaksi antara guru dan murid. Berani menjadi guru dan jangan berhenti berguru merupakan realitas yang sangat ideal untuk dipraktekan di sekolah saat ini.

 

 


Pemberdayaan Masyarakat Melalui Gerakan Literasi Perdesaan

di Desa Selinsing Kabupaten Belitung Timur

 

Heriyanto,S.H.I.

Guru SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur

 

 

 

PENDAHULUAN

Literasi yang ada di Indonesia masih belum menjadi sebuah budaya yang dianggap sebagai sebuah kebutuhan (Suragangga, 2017: 27). Survei yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2016 mengenai budaya membaca yang ada di negara-negara ASEAN menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki budaya membaca paling rendah dengan nilai 0,001. Hal ini mengandung artian dari 1000 orang penduduk hanya 1 (satu) orang yang gemar membaca (Nopilda, 2018 : 23).

                Minimnya budaya literasi juga dialami oleh generasi muda yang masih dalam proses pendidikan, bahkan salah satu kajian menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia hanya membaca buku sebanyak 17 halaman selama satu halaman dalam dua minggu (Wandasari, 2017: 10). Hal ini tentu menjadi keprihatinan bahwa generasi muda diharapkan mampu menjadi generasi yang unggul secara praktis tidak memiliki budaya literasi yang baik dan tidak menganggap literasi akan mampu membawa perbaikan bagi individu yang bersangkutan maupun bagi masyarakat di masa yang akan datang.

                Kondisi tersebut sejalan dengan fakta empiris yang mana perkembangan teknologi informasi yang pesat tidak meningkatkan minat literasi masyarakat. Berbagai referensi seperti buku, jurnal, media masa yang sudah berbentuk digital dan mudah diakses oleh masyarakat belum mampu menggungah keinginan masyarakat untuk mau membaca, mengetahui dan memahami ilmu pengetahuan. Bahkan terdapat kecenderungan mudahnya akses informasi secara digital disalah gunakan menjadi tindakan yang tidak patut ditiru seperti berita bohong (hoax), penyebaran kebencian dan SARA atau Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (Miskahuddin, 2017 : 14). Literasi apabila dikaji secara mendalam tidak hanya diartikan sebagai literate (melek hurup), tetapi juga diartikan sebagai praktik-praktik dalam sebuah situasi sosial, sejarah dan budaya dalam rangka menciptakan dan mengartikan makna melalui teks. Apabila makna ini diterapkan, maka kemampuan literasi soyogyanya mampu membendung berita palsu dan konten-konten negatif  lainnya secara elektronik dikarenakan masyarakat yang memiliki budaya literasi akan mampu manyaring berbagai informasi yang dihadapkan kepadanya (Rohidin, 2012: 67).

                Pemahaman tersebut diatas menkontruksikan pemahaman bahwa literasi memiliki peran yang penting baik bagi kehidupan pribadi, masyarakat juga bagi negara, sehingga gerakan literasi perlu diupayakan oleh semua pihak baik secara individu, secara berkelompok maupun secara nasional maupun kebijakan literasi nasional. Atas dasar pentingnya meningkatkan literasi masyarakat sekaligus menjadikan literasi sebagai sebuah budaya, maka dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, penulis dan pengerak literasi perdesaan menyusun rencana gerakan literasi pedesaan sebagai salah satu program yang didasarkan atas kewajiban kalangan masyarakat untuk turut serta menjadikan literasi sebagai budaya di masyarakat pedesaan.

                Masyakarat yang ada di Desa Selinsing Kecamatan Gantung Kabupaten Belitung Timur belum menjadikan literasi sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan kepada observasi yang dilakukan penulis, minimnya literasi yang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: Pertama, faktor pemerintah khususnya Pemerintah Desa Selinsing kurang mendukung gerakan budaya literasi, hal ini ditujukan baik melalui instrumen kebijakan yang tidak menjadikan literasi sebagai sebagai bagian dari kebijakan pembangunan desa. Kedua faktor masyarakat yang beranggapan literasi merupakan kewajiban bagi anak dan remaja yang sedang menuntut ilmu, masyarakat menganggap bahwa literasi tidak dibutuhkan dan bukan merupakan bagian dari budaya masyarakat. Kertiga, kalangan akademisi baik itu yang berasal dari institusi sekolah yang berada dilingkungan desa maupun warga masyarakat desa berlatar belakang sebagai akademisi memberikan sosialisasi maupun penyuluhan kepada masyarakat akan pentingnya literasi di desa.

                Permasalahan yang didapat melalui observasi tersebut oleh penulis tersebut dijadikan sebagai masukan dalam upayanya mencari solusi atas minimnya budaya literasi yang ada di Desa Selinsing. Kegiatan gerakan literasi perdesaan secara umum ditujukan untuk meningkatkan minat masyarakat sekaligus menjadikan literasi sebagai bagian dari budaya masyarakat desa. Adapun sasaran dan tujuan program yang ingin dicapai yaitu: Pertama, kelompok sasaran yang berasal dari pemerintah yaitu dengan adanya gerakan literasi perdesaan diharapkan mampu menggungah Pemerintah Desa Selinsing akan pentingnya literasi dan menjadikan literasi sebagai bagian pembangunan desa yang akan dilaksanakan sehingga akan dibangunnya infrastruktur yang menunjang literasi seperti perpustakaan desa. Kedua, kelompok sasaran masyarakat diharapkan mampu menggungah kesadaran dan menumbuhkan minat baca sehingga akan menciptakan budaya literasi yang akan memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan masyarakat. Dengan tingginya kesadaran literasi di masyarakat maka diharapkan akan mendorong untuk mendidik anak-anaknya agar memiliki budaya literasi, sehingga menjadikan literasi sebagai sebuah tuntutan dan kebutuhan.

                Ketiga, bagi kalangan akademisi khususnya pemangku kepentingan di sekolah yang berada di lingkungan Desa Selinsing dapat menumbuhkan minat siswa terhadap literasi, sehingga mampu melahirkan generasi muda yang menjadi literasi sebagai kebutuhan dan bagian dari kehidupan generasi muda. Ketiga tujuan di atas diwujudkan dalam berbagai kegiatan dalam program literasi perdesaan yang didasarkan kepada kelompok sasaran yang telah dijelaskan tersebut diatas. Sehingga mampu mendorong dan memfasilitasi masyarakat dalam konteks pembagunan infrastruktur semata, tetapi juga mampu berkontribusi dalam bentuk social capital yang diharapkan akan memberikan manfaat dalam waktu yang lama.

 

ISI DAN PEMBAHASAN

                Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaukan penulis melalui program gerakan literasi perdesaan dilaksanakan di Desa Selinsing Kecamatan Gantung Kabupaten Belitung Timur. Kegiatan yang dilakukan oleh penulis dan beberapa orang pengerak literasi perdesaan dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

 

 

Sosialisasi dan Advokasi Gerakan Literasi Perdesaan Kepada Pemerintah Desa Selinsing

                Gerakan literasi pedesaan harus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, terutama dari pemerintah desa. Hal ini dikarenakan pemerintah desa sebagai pemegang kewenangan penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai pemegang kewenangan penyelenggaraan pemerintahan di tingkat desa. Salah satu wujudnya dapat berupa pemberian dukungan kepada gerakan literasi perdesaan yang tidak hanya ditujukan kepada kebijakan pembangunan infrastruktur literasi pedesaan tetapi juga dukungan dalam menggerakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan literasi pedesaan tersebut.

                Atas dasar permasalahan tersebut maka penulis dan beberapa orang penggerak literasi desa dalam melaksanakan program literasi perdesaan yaitu mengunjungi pemerintah desa terlebih dahulu sebelum kelompok sasaran lainnya. Dalam kunjungan tersebut pemerintah desa dipimpin langsung oleh Kepala Desa menerima penulis dan pengerak literasi desa yang menyampaikan mengenai arti penting literasi perdesaan yang ada di Desa Selinsing. Tanggapan yang diberikan pihak pemerintah desa secara umum mengapresiasi adanya gerakan literasi pedesaan yang digagas oleh penulis dan pengerak literasi desa selinsing.

                Lebih lanjut pihak pemerintah desa memaparkan mengenai berbagai permasalahan mengenai literasi pedesaan yang ada di Desa Selinsing, salah satu permasalahan yang coba diselesaikan oleh penulis dan pengerak literasi desa yaitu mengembalikan kembali perpustakaan desa yang hampir satu tahun tidak beroperasi dan tidak ada kegiatan. Komitmen pemerintah desa lainnya yaitu akan mendukung setiap kegiatan literasi perdesaan yang dilakukan dalam program pengabdian kepada masyarakat oleh penulis dan akan mendorong pihak lainnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Hasil sosialisasi gerakan literasi perdesaan kepada pemerintah desa dapat dikatakan berhasil, hal ini dibuktikan selain kepada dukungan secara moral dan memfasilitasi penyelenggaraan gerakan literasi perdesaan, pemerintah desa juga turut mengintruksikan aparat pemerintah Desa Selinsing untuk membantu menyukseskan gerakan literasi perdesaan tersebut seraya didukung dengan sumbangan fisik seperti penyediaan buku dan saran lainnya yang dibutuhkan dalam gerakan literasi perdesaan.

 

Penyuluhan Gerakan Literasi Perdesaan bagi Masyarakat

                Gerakan literasi perdesaan yang ditujukan bagi masyarakat salah satunya dengan mengajak anggota Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang beranggotakan ibu-ibu dari Desa Selinsing sebagai penggerak dan sasaran penyuluhan gerakan literasi perdesaan. Anggota PKK merupakan perhimpunan yang aktif untuk mensosialisasikan berbagai program desa khususnya yang berkenaan dengan program mayarakat dan keluarga. Dengan begitu diharapkan dengan adanya penyuluhan gerakan literasi perdesaan kepada ibu-ibu anggota PKK diharapkan akan mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya literasi yang nantinya tidak hanya akan mensosialisasikan kepada anggota keluarganya, khususnya anak-anak, tetapi juga gerakan literasi perdesaan akan mampu menjadi program dari PKK.

                Tahap pertama pelaksanaan penyuluhan literasi perdesaan kepada anggota PKK yaitu dengan berbicara kepada ketua PKK mengenai tujuan dari pelaksanaan gerakan literasi perdesaan. Tanggapan yang diberikan oleh Ketua PKK yaitu mendukung sepenuhnya gerakan literasi perdesaan dan memberitahukan kepada anggota PKK untuk turut serta secara aktif dalam kegiatan tersebut. Selama proses penyuluhan berlangsung, anggota PKK memiliki minat untuk melaksanakan kegiatan literasi perdesaan. Anggota PKK menyadari bahwa literasi merupakan kegiatan yang baik dan bahkan harus dijadikan sebagai budaya khususnya bagi anak-anak yang ada di desa. Anggota PKK menyatakan bahwa gerakan literasi harus senantiasa digalakan oleh setiap unsur yang ada di desa agar dapat memberikan manfaat yang banyak kepada masyarakat. Meskipun demikian anggota PKK menyatakan bahwa gerakan literasi tidak akan mudah diterapkan dan akan dihadapkan kepada berbagai permasalahan.

                Permasalahan terbesar dalam gerakan literasi perdesaan yang ada di Desa Selinsing yaitu harus dihadapkan kepda kondisi sosial kemasyarakatan yang ada di desa yang tidak kondusif bagi gerakan literasi perdesaan. Salah satu anggota PKK menyatakan bahwa mata pencaharian masyarakat yang bercocok tanam yang mana sebagian masyarakat sudah berada di lading dari pagi hingga sore dan tidak memiliki kesempatan untuk melakukan literasi yang dilaksanakan akan menjadi indikator bahwa masyarakat akan sedikit yang menaruh perhatian akan permasalahan literasi perdesaan. Di satu sisi, sikap masyarakat dianggap wajar dikarenakan pekerjaan utama untuk berkebun merupakan hal yang harus didahulukan. Atas dasar pemahaman tersebut maka penulis tidak menetapkan harapan yang tinggi akan perubahan sikap masyarakat akan gerakan literasi perdesaan. Adanya pelaksanaan program gerakan literasi perdesaan harus senantiasa berasal dari kebutuhan masyarakat, sehingga program tersebut memiliki potensi yang besar untuk berhasil, hal ini dikarenakan masyarakat desa memiliki karakter untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang memiliki keterkaitan langung dengan mata perncahariannya.

                Permasalahan lainnya dalam gerakan literasi perdesaan yaitu pandangan masyarakat yang memandang bahwa gerakan literasi tidak memiliki korelasi dengan pekerjaan mereka sehari-hari, sehingga literasi oleh sebagian besar masyarakat dipandang akan tepat apabila diterapkan bagi anak-anak yang masih berada di bangku sekolah, bukan kepada masyarakat yang sehari-harinya bekerja di lading. Sebagian anggota PKK memiliki latar belakang sebagai tenaga pendidik di sekolah yang ada di Desa Selinsing, sehingga kegiatan tersebut sekaligus dijadikan ajang untuk memberikan penyuluhan kepada kalangan akademisi agar kegiatan literasi yang ada di sekolah-sekolah digalakan dan ditingkatkan agar menjadi sebuah gerakan yang memberikan manfaat bagi anak-anak. Dari kegiatan sosialisasi dan penyuluhan gerakan literasi perdesaan yang dilakukan kepada anggota PKK, maka didapat hasil bahwa sebagian besar anggota PKK menyatakan dukungan dalam gerakan literasi perdesaan dan menyadari akan pentingnya literasi, meskipun demikian gerakan literasi perdesaan yang dilakukan dinilai tepat bagi anak-anak yang masih duduk dibangku sekolah, sedangkan untuk masyarakat umum yang ada di desa kurang tepat dikarenakan mata pencaharian mereka sebagai petani tidak memiliki korelasi langsung dengan gerakan literasi perdesaan yang dilakukan di desa.

 

Penyuluhan Gerakan Literasi di Lingkungan Bermain Anak-Anak.

                Anak-anak merupakan sasaran yang ideal dalam gerakan literasi perdesaan, hal ini dikarenakan aktivitas mereka yang dalam proses belajar memerlukan berbagai referensi guna menunjang pengetahuan mereka. Adanya sikap yang menjadikan literasi sebagai sebuah kebutuhan dan budaya akan memberikan banyak manfaat bagi anak-anak dan pemuda. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi memberikan berbagai kemudahan kepada anak-anak dan pemuda untuk mengakses literasi yang tidak hanya secara tradisional dimana mereka mendatangi perpustakaan atau membeli buku yang menunjang proses belajar mereka. Berbagai buku elektronik dan bahan bacaan lainnya tersedia secara daring (online), baik itu yang disediakan oleh pemerintah maupun oleh organisasi swasta dan bisnis untuk mencari informasi dan referensi ilmu di perpustakaan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 disebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi bagi para pemustaka.

                Berdasarkan kepada fakta empiris di Desa Selinsing dapat dikatakan bahwa anak-anak kurang memanfaatkan literasi secara digital untuk meningkatkan pengetahuan dan menunjang pembelajaran mereka. Anak-anak justru memanfaatkan akses internet sebagai tempat mereka bermain dan mencari hiburan seperti dipergunakan untuk bermain game online atau aktif dalam situs jejaring social seperti facebook dan instagram. Kondisi seperti ini sejalan dengan beberapa pendapat pakar seperti Adimiharja (2018 : 12) yang berpendapat bahwa akses internet tidak benar-benar dimanfaatkan oleh anak-anak dan masyarakat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan. Bahkan internet memiliki dampak buruk bagi anak-anak dan pemuda yang salah satunya menurunkan minat mereka untuk belajar dan memberikan sifat kecurangan terhadap konten negative. Kegiatan yang dilakukan oleh penulis untuk menggugah ketertarikan kepada literasi yaitu mengajak anak-anak yang ada di Desa Selinsing untuk secara berasama-sama belajar dan bermain. Kegiatan belajar dan bermain dilakukan di halaman kantor desa Selinsing yang mengundang anak-anak secara sukarela dating. Kegiatan  tersebut rutin dilaksanakan setelah anak-anak pulang dari sekolah sampai dengan sore hari.

                Hasil dari gerakan literasi terhadap anak-anak di Desa Selinsing dinilai berhasil dikarenakan banyak anak yang secara intens mengikuti proses belajar dan bermain yang dipandu oleh mahasiswa sesuai dengan bidang ilmu dan keahliannya masing-masing, serta mampu meningkatkan minat anak-anak untuk membaca dan belajar tiap hari.

 

Memperbaiki Taman Bacaan Masyarakat

                Perpustakaan desa tidak hanya berperan sebagai tempat bagi masyarakat memperoleh informasi, tetapi juga dapat membangun nilai social, nilai sejarah dan nilai lainnya yang ada di masyarakat. Oleh sebab itu keberadaan perpustakaan desa perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan menjadi lebih baik hingga memberi banyak manfaat kepada masyarakat.

                Nilai strategis perpustakaan desa nyatanya tidak sejalan dengan kondisi praktis yang ada. Desa-desa yang ada, khususnya di Kabupaten Belitung Timur belum memiliki perpustakaan desa, sekalipun memiliki namun kondisinya terbatas seperti tidak adanya buku-buku yang relevan dan terbaru, tidak adanya pustakawan,s erta jauhnya akses perpustakaan dari lingkungan masyarakat dan berbagai permasalahan lainnya. Permasalahan tersebut diatas sejalan dengan apa yang ada di Desa Selinsing. Berdasarkan kepada fakta yang ada di Desa Selinsing dapat dikatakan bahwa perpustakaan desa dahulunya ada, namun dikarenakan minimnya faktor pemeliharaan dan pengembangan, serta tidak adanya pustakawan menyebabkan perpustakaan desa menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya yang sudah terjadi hamper 1 (satu) tahun terakhir. Permasalahan tersebut di atas dijadikan dasar oleh penulis dan pengerak literasi yang ada di Desa Selinsing untuk mengaktifkan kembali perpustakaan desa dengan mengambil tema kegiatan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Kegiatan pertama yang dilakukan yaitu berkoordinasi dengan pemerintah desa mengenai rencana perbaikan TBM yang bertempat di salah satu ruangan kantor desa. Selain penulis dan pengerak literasi menggali permasalahan yang menjadi hambatan dalam pengembangan TBM yang dahulu ada dan tidak berjalan seperti tujuan awal, penulis juga menggali potensi apabila TBM kembali dibuka dan dijalankan dengan harapan masyarakat yang ada di desa bias mengakses informasi melalui TBM.

                Langkah awal yang dilakukan oleh penulis dan pengerak literasi setelah disetujinya TBM yang bertempat di salah satu ruangan kantor desa yaitu mendata kebutuhan apa saja yang harus ada dalam perpustakaan desa, khususnya buku-buku penunjang kegiatan literasi masyarakat. Setelah penulis dan pengerak literasi mempersiapkan TBM, hal ini dilakukan agar TBM dapat berjalan dengan aparat desa mengenai operasi TBM, hal ini dilakukan agar TBM dapat berjalan secara optimal dalam memberikan layanan literasi kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan perpustakaan desa sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Perbaikan TBM yang dilakukan oleh mahasiswa terkendala oleh kesediaan anggaran untuk pengadaan sarana TBM  seperti kursi, rak buku serta computer. Meskipun demikian pemerintah desa berkomitmen untuk menyediakan prasarana tersebut yang akan dilakukan melalui upaya pengajuan kepada pemerintah daerah Kabupaten Belitung Timur.

 

Evaluasi Gerakan Literasi Perdesaan

                Evaluasi merupakan kegiatan untuk mengukur efek dari sebuah kebijakan yang telah ditetapkan. Dengan demikian para implementor akan mengetahui apakah tujuan awal telah ditetapkan dapat tercapai atau tidak. Atas dasar pemahaman tersebut maka perlu dilakukan evaluasi terhadap gerakan literasi perdesaan yang telah dilaksanakan oleh penulis dan pengerak literasi desa di Desa Selinsing Kecamatan Gantung Kabupaten Belitung Timur. Evaluasi gerakan literasi perdesaan dilakukan dengan menitikberatkan kepada proses dan output/ hasil yang telah dicapai. Dengan demikian akan terlihat bagaimana proses pelaksanaan gerakan literasi perdesaan beserta kunci keberhasilan atau factor kegagalan serta manfaat yang dirasakan dari adanya gerakan literasi perdesaan tersebut. Berikut adalah hasil evaluasi gerakan perdesaan di Desa Selinsing Kabupaten Belitung Timur.

                Pertama, proses pelaksanaan gerakan literasi perdesaan secara umum dapat dikatakan berjalan dengan baik. Selama pelaksanaan program tersebut, baik penulis maupun pengerak literasi turut berpastisipasi dalam berbagai kegiatan literasi perdesaan. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan literasi perdesaan yaitu keterbatasan waktu mengingat kegiatan literasi perdesaan membutuhkan waktu yang intens namun dalam praktiknya dalam satu kegiatan hanya dilaksanakan selama satu bulan. Hal lainnya yang menjadi kendala yaitu terbatasnya sarana yang ada baik sarana yang langsung seperti ketersediaan buku yang mampu menunjang pelaksanaan gerakan literasi perdesaan. Meskipun demikian semua kegiatan dalam gerakan literasi dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. Kedua, manfaat yang dirasakan dari adanya gerakan literasi perdesaan yaitu bagi pemerintah desa sudah memunculkan kesadaran akan pentingnya literasi perdesaan, diharapkan kesadaran tersebut akan ditujukan dengan tindakan lanjutan seperti memasukan program literasi perdesaan dalam rencana pembangunan desa yang didukung dengan penyediaan sarana yang memadai. Bagi kelompok sasaran khususnya bagi anak-anak bahwa gerakan literasi perdesaan seudah mampu memberikan pemahaman akan pentingnya budaya literasi baik itu yang dilakukan di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah tempat anak-anak tersebut bermain.

                Pelaksanaan gerakan literasi perdesaan yang telah dilaksanakan oleh penulis dan pengerak literasi perdesaan selain diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat juga diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat juga diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan oleh para pemangku kepentingan yang ada di Desa Selinsing sehingga kegiatan literasi dapat dijadikan sebagai sebuah budaya yang memberi manfaat kepada perbaikan kualitas hidup masyakarat desa.

 

SIMPULAN

                Gerakan literasi perdesaan yang dilaksanakan oleh penulis dan pengerak literasi Desa Selinsing Kabupaten Belitung Timur telah memberikan hasil bagi peningkatan minat dan budaya literasi yang ada di Desa Selinsing. Kegiatan yang berhasil dilaksanakan terdiri dari kegiatan pemberdayaan dan kegiatan pemberdayaan, capaian kegiatan pemberdayaan, capaian kegiatan yaitu: (1) capaian sosialisasi pentingnya literasi perdesaan yang ditujukan kepada Pemerintah Desa Selinsing, (2) capaian pembelajaran literasi yang dilaksanakan di lingkungan masyarakat. (3) capaian pembelajaran dan pembimbingan literasi untuk anak-anak Sekolah Dasar (SD). Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan infrastruktur literasi, capaian kegiatan berupa pendataan dan perbaikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang berada dilingkungan kantor pemerintah desa.

                Berdasarkan kepada simpulan tersebut diatas, maka rekomendasi bagi gerakan literasi perdesaan agar dapat berkembang dan berkelanjutan yaitu sebagai berikut: (1) Keberpihakan Pemerintah Desa Selinsing dalam gerakan literasi perdesaan perlu ditingkatkan seperti memasukan program literasi perdesaan menjadi bagian dari program kerja tahunan pemerintah desa (2) Gerakan literasi perdesaan akan memiliki manfaat yang lebih besar bagi masyarakat apabila disesuaikan dengan aktivitas perekonomian dan kebudayaan yang ada yang berkembang di masyarakat, dan (3) Upaya integratif antara kurikulum pendidikan dengan budaya lokal dilingkungan sekolah menjadi penting agar literasi menjadi sebuah tuntutan dan budaya bagi anak-anak yang ada di perdesaan.

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

 

Adimiharja. 2018. Oarticipatory Research Appraisal: Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat. Bandung : Humainora.

 

Miskahuddin. 2017. Pengaruh Internet Terhadap Penurunan Minat Belajar Mahasiswa. Bandung: Jurnal Mudarrisuna, Vol. 2 No.7.

 

Nopilda. 2018. Gerakan Literasi Sekolah Berbasis Pembelajaran Multiliterasi: Sebuah Paradigma Pendidikan Abad ke 21. Palembang: Jurnal Manajemen, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, Vol.2 No.3.

 

Rohidin. 2012. Internet dalam Konteks Perpustakaan. Semarang: Jurnal Pustaloka, Vol.4 No.1.

 

Surangga. 2017. Mendidik Lewat Literasi untuk Pendidikan Berkualitas. Jakarta: Jurnal Penjamin Mutu, No.3 Vol.2.

 

Wandasari. 2017. Implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Sebagai Pembentuk Pendidikan Karakter. Bandung: Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan, Vol.1 No.1.

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biografi Penulis

 

 

 

 

Heriyanto, S.H.I. dipangil dengan nama sehari-hari heri. Lahir 36 tahun lalu tepat tanggal 31 Juli 1984 di Desa Seri Tanjung Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Mempunyai hobi, menulis, membaca dan diskusi, bercita-cita jadi Guru. Saat ini menjadi guru di SMP Negeri 4 Gantung Kab. Belitung Timur Propinsi Kep. Babel dari tahun 2010 sampai sekarang. Saya bertempat tinggal di Jln. Eks. Tambang 1.7 RT.17 Desa Selinsing Kecamatan Gantung Kabupaten Belitung Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Beberapa prestasi yang pernah diraih oleh penulis yaitu juara 1 lomba guru SMP berprestasi tingkat kabupaten Belitung Timur tahun 2018, Juara 1 lomba guru SMP berprestasi tingkat propinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2018, Finalis lomba guru SMP berprestasi tingkat nasional 2018, finalis lomba inovasi pembelajaran guru SMP tingkat nasional 2019, lolos seleksi seminar nasional guru SMP berprestasi tingkat nasional 2019, Juara 1 lomba menulis cerpen penerbit Laditri Karya tahun 2019, Juara 1 lomba karya tulis ilmiah (KTI) tingkat kabupaten Belitung Timur tahun 2019. FB: Heriyanto Helmi, Email heri.yanto209@yahoo.com. No.HP/WA 081373883047.