Berani Menjadi GURU, Jangan
Berhenti Ber GURU
Oleh,
Heriyanto Helmi, S.H.I.
Guru SMP Negeri 4 Gantung Belitung
Timur
Menjadi seorang guru tidak
cukup hanya memposisikan diri sebagai pengajar (mengajarkan anak didik), tetapi
juga menjadi pelajar (siap untuk belajar). Ungkapan ini merupakan hasil
refleksi saya selama kurang lebih sepuluh tahun menjadi seorang guru di tempat
yang berbeda. Tentu saja waktu ini tidak terhitung dengan praktek mengajar
selama kuliah dulu. Setidaknya refleksi ini yang mendorong saya untuk berani
menyampaikan sekaligus membagi gagasan terutama tentang posisi ideal seorang
guru saat ini, terutama dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Pedagog
terkemuka bernama Paulo Freire mengemukakan konsep pendidikan “hadap-masalah”.
Konsep ini didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk
berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya,
ekonomi dan politik. Konsep pendidikan ini juga lahir sebagai salah satu bentuk
kritikan terhadap pendidikan model “gaya bank”. Di mana siswa atau anak didik
memposisikan diri sebagai kelompok pasif, yang hanya bersedia mengkonsumsi
setiap pernyataan yang disampaikan oleh guru. Apa yang ditulis oleh Paulo
Freire di atas, sengaja saya kutip sebagai langkah awal dalam menelaah realitas
pendidikan saat ini, terutama pola interaksi antara guru dan murid. Seperti
yang kita ketahui bersama bahwa tugas pokok seorang guru adalah mengajar.
Guru mengajar berarti ia
mentransferkan ilmu yang sudah ia pelajari sebelumnya kepada para siswa.
Mengajar tidak hanya mentransferkan ilmu saja, melainkan juga sikap dan
perilaku (pendidikan karakter) sehingga bisa diteladani oleh para siswa. Di
sini seorang guru harus menjadi role
of model bagi para siswa. Mengajar juga berarti mendidik,
mengarahkan dan menuntun para siswa berjalan pada koridor yang sesuai dengan
aturan yang sudah disepakati secara bersama. Tentu kita pernah mendengar
komentar lepas bahwa guru adalah orang tua kedua dari para siswa di sekolah.
Karena ia adalah orang tua, maka rasa kasih sayang harus dimainkan oleh seorang
guru di lingkungan sekolah. Lebih lanjut, guru mengajar tidak serta merta
memposisikan diri sebagai tokoh yang otoriter. Menganggap diri yang paling
benar dan sangat kaku bahkan anti untuk menerima saran dari para siswa. Guru
dalam tugasnya sebagai pengajar harus siap dan bersedia untuk menerima
kritikan. Di sinilah letak kebijaksanaan seorang guru. Bahkan pada titik inilah
konsep guru belajar diterapkan. Seorang guru memiliki sikap lapang dada dan kemauan
kuat untuk belajar dari orang lain, khususnya dari para siswa. Kesediaan untuk
belajar dari orang lain (siswa) mencerminkan adanya pendidikan partisipatif
dalam ruang sekolah. Artinya seorang guru tidak hanya menjadi pengajar tetapi
juga siap untuk diajar.
Terkait hal ini, baiklah
kita mengutip kata-kata dari Albert Einstein yang menyatakan bahwa: di dunia ini tidak ada orang yang bodoh
dan yang pintar. Yang ada hanyalah orang yang
lebih dahulu tahu dan yang kemudian tahu. Apa yang saya
uraikan di atas merupakan sesuatu yang diidealkan untuk dilakukan oleh seorang
guru. Tetapi dalam prakteknya memang sulit. Hal ini dikarenakan oleh beberapa
faktor: Pertama, adanya
sikap gengsi yang
ditampilkan oleh seorang guru. Gengsi dalam arti tidak mau belajar dari orang
lain, dalam konteks ini adalah siswa. Kedua, ada
perasaan takut yang dialami oleh para siswa untuk menyampaikan gagasan atau
pendapat tatkala gurunya salah atau keliru menjelaskan sesuatu. Perasaan takut
ini juga sebenarnya tidak terlepas dari konstruksi sosial yang melekat dalam
diri siswa tentang sosok guru yang sangat ditakuti. Atau pun juga perasaan
takut lainnya seperti tidak mendapatkan nilai baik jika saya memprotes guru.
Ini merupakan bentuk ketakutan yang terkontaminasi dalam diri seorang siswa.Untuk
bisa keluar dari zona atau situasi tersebut, sosok guru harus melihat anak
didiknya sebagai teman. Teman dalam artian saling berbagi ilmu, menghargai
pendapat dan bersedia untuk mengkritik dan dikritik. Di samping itu, seorang
guru harus berani untuk memposisikan diri bukan hanya sebagai pengajar
melainkan juga menjadi pelajar bagi para siswa. Hubungan ideal seperti ini
bertujuan untuk mengurangi gap atau
kesenjangan dalam hal interaksi antara guru dan murid. Berani menjadi guru dan
jangan berhenti berguru merupakan realitas yang sangat ideal untuk dipraktekan
di sekolah saat ini.








0 komentar:
Posting Komentar