Senin, 01 Maret 2021

 


Berani Menjadi GURU, Jangan Berhenti Ber GURU

Oleh,

Heriyanto Helmi, S.H.I.

Guru SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur

 

 

Menjadi seorang guru tidak cukup hanya memposisikan diri sebagai pengajar (mengajarkan anak didik), tetapi juga menjadi pelajar (siap untuk belajar). Ungkapan ini merupakan hasil refleksi saya selama kurang lebih sepuluh tahun menjadi seorang guru di tempat yang berbeda. Tentu saja waktu ini tidak terhitung dengan praktek mengajar selama kuliah dulu. Setidaknya refleksi ini yang mendorong saya untuk berani menyampaikan sekaligus membagi gagasan terutama tentang posisi ideal seorang guru saat ini, terutama dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Pedagog terkemuka bernama Paulo Freire mengemukakan konsep pendidikan “hadap-masalah”. Konsep ini didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya, ekonomi dan politik. Konsep pendidikan ini juga lahir sebagai salah satu bentuk kritikan terhadap pendidikan model “gaya bank”. Di mana siswa atau anak didik memposisikan diri sebagai kelompok pasif, yang hanya bersedia mengkonsumsi setiap pernyataan yang disampaikan oleh guru. Apa yang ditulis oleh Paulo Freire di atas, sengaja saya kutip sebagai langkah awal dalam menelaah realitas pendidikan saat ini, terutama pola interaksi antara guru dan murid. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tugas pokok seorang guru adalah mengajar.

Guru mengajar berarti ia mentransferkan ilmu yang sudah ia pelajari sebelumnya kepada para siswa. Mengajar tidak hanya mentransferkan ilmu saja, melainkan juga sikap dan perilaku (pendidikan karakter) sehingga bisa diteladani oleh para siswa. Di sini seorang guru harus menjadi role of model bagi para siswa. Mengajar juga berarti mendidik, mengarahkan dan menuntun para siswa berjalan pada koridor yang sesuai dengan aturan yang sudah disepakati secara bersama. Tentu kita pernah mendengar komentar lepas bahwa guru adalah orang tua kedua dari para siswa di sekolah. Karena ia adalah orang tua, maka rasa kasih sayang harus dimainkan oleh seorang guru di lingkungan sekolah. Lebih lanjut, guru mengajar tidak serta merta memposisikan diri sebagai tokoh yang otoriter. Menganggap diri yang paling benar dan sangat kaku bahkan anti untuk menerima saran dari para siswa. Guru dalam tugasnya sebagai pengajar harus siap dan bersedia untuk menerima kritikan. Di sinilah letak kebijaksanaan seorang guru. Bahkan pada titik inilah konsep guru belajar diterapkan. Seorang guru memiliki sikap lapang dada dan kemauan kuat untuk belajar dari orang lain, khususnya dari para siswa. Kesediaan untuk belajar dari orang lain (siswa) mencerminkan adanya pendidikan partisipatif dalam ruang sekolah. Artinya seorang guru tidak hanya menjadi pengajar tetapi juga siap untuk diajar.

Terkait hal ini, baiklah kita mengutip kata-kata dari Albert Einstein yang menyatakan bahwa: di dunia ini tidak ada orang yang bodoh dan yang pintar. Yang ada hanyalah orang yang lebih dahulu tahu dan yang kemudian tahu. Apa yang saya uraikan di atas merupakan sesuatu yang diidealkan untuk dilakukan oleh seorang guru. Tetapi dalam prakteknya memang sulit. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor: Pertama, adanya sikap gengsi yang ditampilkan oleh seorang guru. Gengsi dalam arti tidak mau belajar dari orang lain, dalam konteks ini adalah siswa. Kedua, ada perasaan takut yang dialami oleh para siswa untuk menyampaikan gagasan atau pendapat tatkala gurunya salah atau keliru menjelaskan sesuatu. Perasaan takut ini juga sebenarnya tidak terlepas dari konstruksi sosial yang melekat dalam diri siswa tentang sosok guru yang sangat ditakuti. Atau pun juga perasaan takut lainnya seperti tidak mendapatkan nilai baik jika saya memprotes guru. Ini merupakan bentuk ketakutan yang terkontaminasi dalam diri seorang siswa.Untuk bisa keluar dari zona atau situasi tersebut, sosok guru harus melihat anak didiknya sebagai teman. Teman dalam artian saling berbagi ilmu, menghargai pendapat dan bersedia untuk mengkritik dan dikritik. Di samping itu, seorang guru harus berani untuk memposisikan diri bukan hanya sebagai pengajar melainkan juga menjadi pelajar bagi para siswa. Hubungan ideal seperti ini bertujuan untuk mengurangi gap atau kesenjangan dalam hal interaksi antara guru dan murid. Berani menjadi guru dan jangan berhenti berguru merupakan realitas yang sangat ideal untuk dipraktekan di sekolah saat ini.

 

0 komentar:

Posting Komentar