Senin, 12 April 2021

 


SEMANGATKU YANG TAK BERTEPI

Oleh, Heriyanto, S.H.I.

 

 

 

Semangat... ya hampir setiap hari kuucapkan kata-kata itu sebagai penyemangat diri sejak 11 Tahun Yang lalu… Tak terasa sudah selama itu juga aku mengabdikan diriku di sini. Aku yang berasal dari daerah “desa” memutuskan merantau ke wilayah Pulau Belitung Khususnya di Kabupaten Belitung Timur.. Masih kuingat Jelas pertanyaan ayahku ketika aku ikut tes CPNS di Belitung Timur tahun 2010 silam “ Apakah sudah kamu pikirkan betul -betul keputusannmu untuk pergi ke Belitung Timur, Tapi tekadku memang sudah bulat untuk pergi merantau Ke Belitung Timur. Berbekal Ijazah S1 Guru karena aku ikut tes CPNS Belitung Timur, dan Alhamdulillah lulus. Susahnya menembus kelulusan tes CPNS di daerahku sekitar Tahun 2009 masih sangat terasa di pikiranku.. ratusan bahkan ribuan pelamar mengikuti tes CPNS di tanah kelahiranku. Jadi apa salahnya aku mencoba untuk keluar dari “Zona” Ku mencari peluang baru yaitu dengan mencari nasib di Kabupaten Belitung Timur. Selama 11 tahun mengajar di kabupaten Belitung Timur aku mengabdikan diri menjadi guru tepatnya di SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur, tidak ada kendala ketika memberikan materi pembelajaran di kelas.

Di akhir tahun 2019 yang lalu dunia dihebohkan dengan Virus corona atau novel Coronavirus [2019-nCoV] menyebar cepat ke penjuru dunia, sejak awal merebaknya 31 Desember 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Wabah virus corona masih terus menghantui sejumlah negara di dunia. Tak terkecuali Indonesia. Jika sebelumnya Indonesia menjadi salah satu negara yang belum terinfeksi waktu itu, namun akhirnya Indonesia mengkonfirmasi kasus pertamanya tanggal 14 Februari 2020.

Terjadinya kontak langsung dengan pasien, menimbulkan terjadinya penyebaran dengan cepat, kurangnya alat pelindung diri atau dikenal dengna nama APD menjadi penyebab lain dari banyaknya korban yang meninggal dunia. Penyebaran virus corona terjadi melalui kontak langsung dengan pasien, obat penawar yang masih belum ditemukan oleh para ahli, sehingga mempersulit penghentian penyebaran virus ini. Sulitnya penanganan virus corona, sehingga banyak pemimpin negara menentukan langah - langkah  dalam  menghentikan penyebarannya   bahkan harus menentukan kebijakan yang sangat sulit, tetapi harus dilakukan oleh pemerintahan di masing - masing negara, salah satu kebijakan yang sangat berpengaruh besar terhadap  berbagai aspek kehidupan terebut yaitu pembatasan  interaksi sosial, dimana pembatasan ini tentu akan berpengaruh besar tehadap laju perekonomian, tersendatnya kebutuhan kebutuhan utama masyarakat, menimbulkan efek banyaknya perusahaan perusahaan yang pekerjanya dirumahkan sehingga otomatis terjadinya pengangguran, dengan tingkat kebutuhan ekonomi yang tinggi tetapi penghasil yang tidak ada, tidak mungkin negara membayar semua kebutuhan masyarakatnya yang begitu banyak seperti Indonesia.

Dibidang pendidikan juga terdampak yang sangat besar, hal itulah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Belitung Timur pada awal maret 2020 sebab demi menghentikan penyebaran corona ini semua siswa dan gurunya belajar dari rumah mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA, yang mendadak dilakukan tanpa persiapan sama sekali.  Ketidaksiapan semua unsur dalam pendidikan menjadi kendala yang besar juga, adanya perubahan cara belajar mengajar dari tatap muka atau luring (luar jaringan) menjadi daring (dalam jaringan) membutuhkan kesiapan dari semua unsur, dimulai dari pemerintah, sekolah, guru, siswa dan orang tua, diakui memang pemerintah melonggarkan sistem penilaian pendidikan disesuaikan dengan keadaan darurat asalkan pembelajaran tetap dapat berlangsung tanpa harus di bebani dengan pencapaian kompetensi. Sehingga banyak para guru menggunakan dari dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

Dari hasil survey dan analisis yang dilakukan penulis melalui kegiatan monev PJJ di sekolah binaan Dinas Pendidikan Kabupaten Belitung Timur, diperoleh beberapa faktor utama yang menjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan teknologi diantaranya adalah: 1) penguasaan teknologi, 2) keterbatasan sarana prasarana, 3) jaringan internet, 4) pembiayaan. Minggu pertama di bulan maret   saat pertama  diberlakukannya pembelajaran jarak jauh terdapat permasalahan yang sangat umum ditemukan  yaitu penguasaan teknologi baik dari pihak sekolah, guru, siswa dan orang tua.  Alat komunikasi android atau gawai, atau telpon pintar yang sudah umum digunakan baru dimanfaatkan untuk hiburan saja sedangkan saat di lakukan PJJ seperti saat pandemic ini kemampuan penguasaaan teknologi itulah yang terpenting apa dan bagaimana memanftkan berbagai kemudahan yang di miliki oleh android tersebut, sehingga serempak semua sibuk belajar, mencari bagaimana menggunakan aplikasi, sehingga dapat mempermudah pertemuan lewat alat teknologi tersebut dalam pelaksanaan belajar, dan pemantauan siswa. Timbul kesulitan sarana prasarana setelah PJJ di berlakukan, pembelajaran daring harus memiliki sarana yang memadai, banyak yang memiliki telpon tetapi tidak support internet atau aplikasi aplikasi yang diperlukan sehingga baik sekolah, guru dan sisiwa memerlukan sarana dan prasarana yang benar benar support. Sedangkan kenyataannya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja sangat sulit dipenuhi dalam situasi seperti saat ini.

Kebutuhan jaringan internet, banyak sekolah, guru dan sisiwa yang sulit mendapatkan jaringan internet yang stabil bahkan ada yang masih belum terjangkau oleh jaringan tersebut, letak geografis tempat tinggal guru dan siswa berada pada posisi yang susah mendapatkan jaringan internet walaupun ada, sering tidak stabil sehingga menjadi kendala yang tidak bisa dipisahkan dari pembelajaran moda daring yang kini banyak di pilih oleh sekolah-sekolah. Pembiayaan, tentu saja sangat melekat pada kesemua rangkaian kendala tersebut sebab dalam pengadaan sarana prasarana, pembiayaan menjadi utama, kuota yang menjadi kebutuhan primer membebankan pembiayaan keluarga, banyak guru, orang tua yang tidak siap dengan penambahan biaya baru untuk pengadaan kuota sehingga menghambat terlaksananya kelancaran PJJ.

Diberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) sangat menyita pikiran saya, jujur saya berada dalam posisi dilematis. Bukan masalah tidak mau berusaha atau tidak mengerti dengan teknologi, tapi tentang himbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasiem Makarim, agar guru bekerja dari rumah. Ini jelas sangat sulit saya lakukan, karena semua siswa saya di SMP Negeri 4 Gantung tidak semuanya mempunyai sarana baik itu HP, laptop dan perangkat internet atau sarana lain untuk belajar dari rumah. Jikapun ada, dana untuk beli kuota internet akan membebani orang tua siswa. Pada waktu itu ada beberapa orang tua siswa yang datang kerumah saya bilang kepada saya, bahwa akan mencari pinjaman uang untuk memberi HP cerdas. Saya sedih dan terkejut mendengar penuturannya. Lalu pelan-pelan saya bicara, saya melarangnya. Saya lalu memberikan pemahaman bahwa belajar tidak harus lewat HP. Siswa bisa belajar dari buku-buku paket yang sudah dipinjamkan dari sekolah. Saya bilang, bahwa sayalah yang akan berkeliling kerumah-rumah siswa untuk mengajar dan membimbing siswa.

Mendengar pemahaman yang saya sampaikan, ada perasaan lega dan terpancar raut kegembiraan diwajah orang tua siswa. Jadi, di masa pendemik sekarang ini, saya harus berkeliling kerumah-rumah, setidaknya 4 kali dalam satu minggu ….saya harus semangat dan terus semangat demi anak bangsa itulah tekad yang kutanamkan demi mencerdasakan anak bangsa. Medan yang saya tempuh juga lumayan jauh, belum lagi keadaan siswa kadang ikut orang tuanya kerja mencari timah yang jaraknya yang juga sangat jauh, jalan berlumpur, panas, hujan tidak menyurutkan tekadku untuk datang menemui siswaku. Saya sadar yang saya lakukan ini melanggar himbauan pemerintah agar tetap bekerja di rumah. Tapi mau gimana lagi? Membiarkan siswa belajar sendiri di rumah tanpa saya pantau, jelas menjadi beban bagi saya. Bukan saya tidak percaya pada orang tua mereka. Tapi saya tahu, bahwa orang tua siswa saya banyak yang bekerja di tambang timah pergi pagi pulang pada waktu malam hari.

Setiap hari orang tua ayahnya siswa itu harus bekerja di tambah timah, ibunya bekerja di pengilingan padi. Melihat kondisi seperti itu maka sayalah yang harus hadir untuk mendampingi mereka bergiliran meski sebentar. Keadaan yang paling miris dan menyedihkan ketika saya mendatangi salah satu siswa kerumahnya namun tidak ada ada, kata tetangganya dia membantu orang tuanya kerja di tambang timah yang berjarak 6 KM dari rumahnya, lalu saat itu juga saya memberanikan diri menemuinya ke tempat dia membantu orang tuanya karena sudah dua kali saya tidak ketemu dengan siswa saya tersebut. Keadaan jalan yang berlumpur akibat hujan dengan penuh semangat kulalui, akhirnya saya menemukan tempat tambang timah tersebut. Banyak orang yang bekerja disana saya lihat lubang tambang yang begitu dalam keluarlah siswa saya dengan seluruh tubuh bermandi lumpur tambang, saya memberikan motivasi agar dia tetap semangat dalam membantu orang tua dan terus semangat belajar di waktu malam hari. Akupun pulang melanjutkan perjalanan kerumah dengan tubuh lelah tapi perasaan lega yang ada dalam pikiranku.

Yah.... hanya itu pengalaman dan harapanku selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) agar aku selalu punya kesempatan untuk bisa mengucapkan “Semangatku yang tak bertepi” Dengan melihat senyum anak anak didikku, merupakan energi dan semangat tersendiri buatku..

Terimakasih, Belitung Timur yang telah memberiku kesempatan untuk hidup dan berkarya di Negeri Laskar Pelangi ini. Hanya satu yang bisa kujanjikan.. selalu memberikan yang terbaik dan bermanfaat serta selalu ingin membuat siswaku tersenyum, selalu semangat dalam belajar dan semoga pandemi covid 19 ini cepat berlalu. Aamiin.

 

0 komentar:

Posting Komentar