SEMANGATKU YANG TAK BERTEPI
Oleh, Heriyanto, S.H.I.
Semangat... ya hampir setiap hari kuucapkan kata-kata
itu sebagai penyemangat diri sejak 11 Tahun Yang lalu… Tak terasa sudah selama
itu juga aku mengabdikan diriku di sini. Aku yang berasal dari daerah “desa”
memutuskan merantau ke wilayah Pulau
Belitung Khususnya di Kabupaten
Belitung Timur.. Masih kuingat
Jelas pertanyaan ayahku ketika aku ikut tes CPNS di
Belitung Timur tahun 2010 silam “ Apakah sudah kamu pikirkan betul -betul
keputusannmu untuk pergi ke Belitung Timur, Tapi tekadku memang sudah bulat
untuk pergi merantau Ke Belitung Timur. Berbekal Ijazah S1 Guru karena aku ikut
tes CPNS Belitung Timur, dan
Alhamdulillah lulus. Susahnya menembus kelulusan tes CPNS di daerahku sekitar
Tahun 2009 masih sangat terasa di pikiranku.. ratusan bahkan ribuan pelamar mengikuti tes CPNS di tanah
kelahiranku. Jadi apa salahnya aku mencoba untuk keluar dari “Zona” Ku mencari
peluang baru yaitu dengan mencari nasib di Kabupaten Belitung Timur. Selama 11
tahun mengajar di kabupaten Belitung Timur aku mengabdikan diri menjadi guru
tepatnya di SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur, tidak ada kendala ketika
memberikan materi pembelajaran di kelas.
Di akhir
tahun 2019 yang lalu dunia dihebohkan dengan Virus corona atau novel Coronavirus [2019-nCoV]
menyebar cepat ke penjuru dunia, sejak awal merebaknya 31 Desember 2019 di Kota
Wuhan, Provinsi Hubei, China. Wabah virus corona masih terus menghantui
sejumlah negara di dunia. Tak terkecuali Indonesia. Jika sebelumnya Indonesia
menjadi salah satu negara yang belum terinfeksi waktu itu, namun akhirnya
Indonesia mengkonfirmasi kasus pertamanya tanggal 14 Februari 2020.
Terjadinya kontak langsung dengan
pasien, menimbulkan terjadinya penyebaran dengan cepat, kurangnya alat
pelindung diri atau dikenal dengna nama APD menjadi penyebab lain dari
banyaknya korban yang meninggal dunia. Penyebaran virus corona terjadi melalui
kontak langsung dengan pasien, obat penawar yang masih belum ditemukan oleh
para ahli, sehingga mempersulit penghentian penyebaran virus ini. Sulitnya
penanganan virus corona, sehingga banyak pemimpin negara menentukan langah - langkah
dalam menghentikan penyebarannya bahkan harus menentukan
kebijakan yang sangat sulit, tetapi harus dilakukan oleh pemerintahan di masing
- masing negara, salah satu kebijakan yang sangat berpengaruh besar
terhadap berbagai aspek kehidupan terebut yaitu pembatasan
interaksi sosial, dimana pembatasan ini tentu akan berpengaruh besar tehadap
laju perekonomian, tersendatnya kebutuhan kebutuhan utama masyarakat,
menimbulkan efek banyaknya perusahaan perusahaan yang pekerjanya dirumahkan
sehingga otomatis terjadinya pengangguran, dengan tingkat kebutuhan ekonomi
yang tinggi tetapi penghasil yang tidak ada, tidak mungkin negara membayar
semua kebutuhan masyarakatnya yang begitu banyak seperti Indonesia.
Dibidang pendidikan juga terdampak
yang sangat besar, hal itulah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Belitung
Timur pada awal maret 2020 sebab demi menghentikan penyebaran corona ini semua
siswa dan gurunya belajar dari rumah mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA,
yang mendadak dilakukan tanpa persiapan sama sekali. Ketidaksiapan semua
unsur dalam pendidikan menjadi kendala yang besar juga, adanya perubahan cara
belajar mengajar dari tatap muka atau luring (luar jaringan) menjadi daring
(dalam jaringan) membutuhkan kesiapan dari semua unsur, dimulai dari
pemerintah, sekolah, guru, siswa dan orang tua, diakui memang pemerintah
melonggarkan sistem penilaian pendidikan disesuaikan dengan keadaan darurat
asalkan pembelajaran tetap dapat berlangsung tanpa harus di bebani dengan
pencapaian kompetensi. Sehingga banyak para guru menggunakan dari dengan
memanfaatkan teknologi yang ada.
Dari hasil survey dan analisis yang
dilakukan penulis melalui kegiatan monev PJJ di sekolah binaan Dinas Pendidikan
Kabupaten Belitung Timur, diperoleh beberapa faktor utama yang menjadi kendala
dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan teknologi diantaranya
adalah: 1) penguasaan teknologi, 2) keterbatasan sarana prasarana, 3) jaringan
internet, 4) pembiayaan. Minggu pertama di bulan maret saat
pertama diberlakukannya pembelajaran jarak jauh terdapat permasalahan
yang sangat umum ditemukan yaitu penguasaan teknologi baik dari pihak
sekolah, guru, siswa dan orang tua. Alat komunikasi android atau gawai,
atau telpon pintar yang sudah umum digunakan baru dimanfaatkan untuk hiburan
saja sedangkan saat di lakukan PJJ seperti saat pandemic ini kemampuan
penguasaaan teknologi itulah yang terpenting apa dan bagaimana memanftkan
berbagai kemudahan yang di miliki oleh android tersebut, sehingga serempak
semua sibuk belajar, mencari bagaimana menggunakan aplikasi, sehingga dapat
mempermudah pertemuan lewat alat teknologi tersebut dalam pelaksanaan belajar,
dan pemantauan siswa. Timbul kesulitan sarana prasarana setelah PJJ di
berlakukan, pembelajaran daring harus memiliki sarana yang memadai, banyak yang
memiliki telpon tetapi tidak support internet atau aplikasi aplikasi yang
diperlukan sehingga baik sekolah, guru dan sisiwa memerlukan sarana dan
prasarana yang benar benar support. Sedangkan kenyataannya untuk memenuhi
kebutuhan pokoknya saja sangat sulit dipenuhi dalam situasi seperti saat ini.
Kebutuhan jaringan internet, banyak
sekolah, guru dan sisiwa yang sulit mendapatkan jaringan internet yang stabil
bahkan ada yang masih belum terjangkau oleh jaringan tersebut, letak geografis
tempat tinggal guru dan siswa berada pada posisi yang susah mendapatkan
jaringan internet walaupun ada, sering tidak stabil sehingga menjadi kendala
yang tidak bisa dipisahkan dari pembelajaran moda daring yang kini banyak di
pilih oleh sekolah-sekolah. Pembiayaan, tentu saja sangat melekat pada kesemua
rangkaian kendala tersebut sebab dalam pengadaan sarana prasarana, pembiayaan
menjadi utama, kuota yang menjadi kebutuhan primer membebankan pembiayaan
keluarga, banyak guru, orang tua yang tidak siap dengan penambahan biaya baru
untuk pengadaan kuota sehingga menghambat terlaksananya kelancaran PJJ.
Diberlakukan sistem pembelajaran jarak
jauh (PJJ) sangat menyita pikiran saya, jujur saya berada dalam posisi
dilematis. Bukan masalah tidak mau berusaha atau tidak mengerti dengan
teknologi, tapi tentang himbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasiem
Makarim, agar guru bekerja dari rumah. Ini jelas sangat sulit saya lakukan,
karena semua siswa saya di SMP Negeri 4 Gantung tidak semuanya mempunyai sarana
baik itu HP, laptop dan perangkat internet atau sarana lain untuk belajar dari
rumah. Jikapun ada, dana untuk beli kuota internet akan membebani orang tua
siswa. Pada waktu itu ada beberapa orang tua siswa yang datang kerumah saya
bilang kepada saya, bahwa akan mencari pinjaman uang untuk memberi HP cerdas.
Saya sedih dan terkejut mendengar penuturannya. Lalu pelan-pelan saya bicara,
saya melarangnya. Saya lalu memberikan pemahaman bahwa belajar tidak harus
lewat HP. Siswa bisa belajar dari buku-buku paket yang sudah dipinjamkan dari
sekolah. Saya bilang, bahwa sayalah yang akan berkeliling kerumah-rumah siswa
untuk mengajar dan membimbing siswa.
Mendengar pemahaman yang saya
sampaikan, ada perasaan lega dan terpancar raut kegembiraan diwajah orang tua
siswa. Jadi, di masa pendemik sekarang ini, saya harus berkeliling
kerumah-rumah, setidaknya 4 kali dalam satu minggu ….saya harus semangat dan terus
semangat demi anak bangsa itulah tekad yang kutanamkan demi mencerdasakan anak
bangsa. Medan yang saya tempuh juga lumayan jauh, belum lagi keadaan siswa
kadang ikut orang tuanya kerja mencari timah yang jaraknya yang juga sangat
jauh, jalan berlumpur, panas, hujan tidak menyurutkan tekadku untuk datang
menemui siswaku. Saya sadar yang saya lakukan ini melanggar himbauan pemerintah
agar tetap bekerja di rumah. Tapi mau gimana lagi? Membiarkan siswa belajar
sendiri di rumah tanpa saya pantau, jelas menjadi beban bagi saya. Bukan saya
tidak percaya pada orang tua mereka. Tapi saya tahu, bahwa orang tua siswa saya
banyak yang bekerja di tambang timah pergi pagi pulang pada waktu malam hari.
Setiap hari orang tua ayahnya siswa
itu harus bekerja di tambah timah, ibunya bekerja di pengilingan padi. Melihat
kondisi seperti itu maka sayalah yang harus hadir untuk mendampingi mereka
bergiliran meski sebentar. Keadaan yang paling miris dan menyedihkan ketika
saya mendatangi salah satu siswa kerumahnya namun tidak ada ada, kata
tetangganya dia membantu orang tuanya kerja di tambang timah yang berjarak 6 KM
dari rumahnya, lalu saat itu juga saya memberanikan diri menemuinya ke tempat
dia membantu orang tuanya karena sudah dua kali saya tidak ketemu dengan siswa
saya tersebut. Keadaan jalan yang berlumpur akibat hujan dengan penuh semangat
kulalui, akhirnya saya menemukan tempat tambang timah tersebut. Banyak orang
yang bekerja disana saya lihat lubang tambang yang begitu dalam keluarlah siswa
saya dengan seluruh tubuh bermandi lumpur tambang, saya memberikan motivasi
agar dia tetap semangat dalam membantu orang tua dan terus semangat belajar di
waktu malam hari. Akupun pulang melanjutkan perjalanan kerumah dengan tubuh
lelah tapi perasaan lega yang ada dalam pikiranku.
Yah....
hanya itu pengalaman dan harapanku selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) agar
aku selalu punya kesempatan untuk bisa mengucapkan “Semangatku yang tak bertepi”
Dengan melihat senyum anak anak didikku, merupakan energi dan semangat
tersendiri buatku..
Terimakasih, Belitung Timur yang telah memberiku kesempatan untuk hidup
dan berkarya di Negeri Laskar Pelangi ini. Hanya satu yang bisa
kujanjikan.. selalu memberikan yang terbaik dan bermanfaat serta selalu ingin
membuat siswaku tersenyum, selalu semangat dalam belajar dan semoga pandemi
covid 19 ini cepat berlalu. Aamiin.








0 komentar:
Posting Komentar