(CERPEN PERJALANAN HIDUP)
Mimpi Si Anak Tukang Jahit
Oleh,
Heriyanto,S.H.I.
Aku seorang anak desa, yang dibesarkan
dilingkungan desa. Ayahku seorang tukang jahit tinggal di sebuah desa bernama
Seri Tanjung, berlokasi disebuah titik dibagian tengah sumatera selatan.
Setiap hari ayahku sibuk mengayuh mesin jahit, sedangkan masyarakat di
kampungku bekerja kerja berbagai profesi ada petani, pedagang, sopir dan guru.
Di kebun mereka menyadap karet, menyadap karet merupakan sebagaian besar mata
pencaharian marayarakat di kampungku. Hasil sadapan getah karet dijual kepada
pengepul untuk dikirim ke kota palembang, Setiap hari, ayahku menghabiskan
waktu di mesin jahit untuk menyelesaikan pesanan langanannya. Mekipun
orang desa tulen, janganlah aku dipandang enteng. Yang jelas, sekarang aku
adalah orang yang mempunyai semangat yang kuat untuk maju, karena bagiku asal
ada kemauan yang keras pasti apa yang kita inginkan pasti bisa kita raih.
Aku masih ingat betapa sulitnya mencari
pekerjaan ketika menyelesaikan S1 di salah satu Universitas Negeri di kota
Palembang. Sehingga pada tahun 2009 aku memutuskan untuk merantau ke pulau
belitung, sendirian lagi. Aku harus membuktikan bahwa aku harus bisa mandiri
tidak lagi bergantung kepada kedua orang tua. Kapal ekspres bahari membawaku
menyeberang dua pulau hingga menjelang malam aku sampai di pelabuhan yang aku
lihat diplang pelabuhan bernama LASKAR PELANGI. Niat dan haparanku saat itu
hanya ikut tes CPNS dan bertekad lulus untuk merubah hidupku.
Sebagai anak pertama, aku harus memberikan
contoh bagi adik-adikku yang diharapkan bisa berhasil di rantau. Ketika melihat
pengumuman tes CPNS, namaku tertulis di pengumuman melalui koran, betapa
bersyukurnya aku karena diberi kesempatan oleh Allah swt karena mendapatkan
pekerjaan yang mapan. Kemudian aku disibukan dengan pemberkasan yang sangat
melelahkan, hujan yang deras mengiringi langkahku menuju pulau belitung untuk
mengumpulkan berkas mendapatkan persetujuan NIP oleh BKN. Selama satu bulan aku
menunggu kepastian, akhirnya yang dinantikan datang juga. Tepat tanggal 1
Januari 2010 aku mendapatkan SK CPNS dan ditempatkan suatu desa yang sangat
jauh dari keramaian. Setelah melapor kepada kepala sekolah tempat aku
ditugaskan, aku bergegas mencari rumah dinas di sekitar sekolah karena aku
tidak mempunyai biaya untuk mengontrak atau ngekos. Sang kepala sekolah
menunjukkan salah satu rumah kopel bejejer satu pintu untuk tempat saya
tinggal. Rumah yang tidak begitu cocok dan kurang layak huni untuk aku tempati,
WC dan kamar mandi tidak ada, begitupun instalasi listrik belum tersambung,
pintu rumah pun darurat dari triplek bekas.
Malam hari pertama tinggal di rumah itu, aku
paksakan untuk tetap tinggal, karena tidak ada pilihan lain, bersandarkan tas
sebagai bantal dan kertas koran bekas sebagai alas untuk tidur, perut teras
lapar hanya ada satu air galon isi ulang yang sengaja aku bawa untuk minum.
Ketika malam mulai gelap, aku melihat hp untuk melihat jam, waktu itu jam di hp
menunjukkan pukul 19.00 malam, aku bergegas mandi di kamar mandi sekolah yang
jaraknya 30 meter, suasana gelap perasaan takut menghantuiku maklamu malam
pertama menginjakkan kaki di negeri orang. Sehabis mandi perut mulai
keroncongan dan kuambil mie instan untuk kumakan, baru sesuap makan mie instan.
Ada suara dari seseorang yang memanggil namaku…“Assalamu’alaikum……” terdengar lantang dari luar rumah….langsung ku
jawab “Wa’alaikum salam”…. Rupanya
tetangga dekat rumah sama-sama perantau dari Palembang…namanya iwan, karena
umurnya lebih tua dariku beliau kupanggil sebutan kak wan, ada apa kak? Tanyaku
kepadanya…gini dek malam ini adek usah paksakan tinggal disini dulu, biar
nginap dirumah kakak dulu ……sambutnya kepadaku. Jujur waktu itu hatiku malu dan
merasa tidak enak hati karena kak iwan dan yuk yus istrinya orangnya begitu
baik, sudah membantu semenjak aku datang sore hari sampai membantuku
memperbaiki pintu rumah dan instalasi listrik, perasaan ragu menghapiriku
antara perasaan tidak enak sudah banyak merepotkan dan juga perasaan belum siap
tinggal sendiri beradaptasi dirantau orang.
Malam itu juga kuputuskan untuk menerima tawaran
kak iwan dan yuk yus untuk tinggal rumahnya, sesampainya dirumah aku ditawari
makan, minum, dan yang lebih mengharukan lagi aku diberikan nasehat oleh kak
iwan…… “ri, kalau kamu lapar usah malu makan saja, jangan membiarkan lapar
nanti kamu sakit, apapun yang ada dirumah ini baik itu makanan minuman, makan
minum saja anggaplah sebagai rumahmu sendiri” ucapn kak iwan kepadaku. Begitu
terharunya hatiku tak terasa air mataku menetes betapa baiknya keluarga ini,
meskipun baru kenal dan pertama kali bertemu denganku, keluarga bukan, sahabat
pun bukan, tapi tetap bertutur kata baik dan sopan serta mau menolong,
pelajaran dan pengalaman yang dapat kupetik dari keluarga ini. Malam berganti
siang, akupun bergegas mengosok pakaian dan mandi karena itu hari pertamaku
melaksanakan tugas sebagai guru. Ada 7 orang CPNS baru yang sama-sama
ditempatkan di sekolahku.
Pada awalnya terasa sulit bagiku ketika
berinteraksi dengan masyarakat di lingkungan tempat aku bertugas dan dengan
siswa khususnya, perbedaan bahasa dengan tempat tinggalku sangat jauh, sehingga
dihari pertama bertugas terpaksa aku menggunakan bahasa Indonesia sebagai
bahasa yang kugunakan waktu berinteraksi dihari pertama bekerja. Waktu itu aku
ingat pesan orang tuaku dikampung ketika pertama kali menginjakan kaki dirantau
tempat yang paling tepat untuk mengenalkan diri sebagai warga masyarakat baru
dan mengenalkan diri yaitu masjid. Bergegaslah aku menunaikan salat zuhur
dengan meminjam motor kak iwan di masjid desa tempat aku bertugas. Setelah
melaksanakan salah zuhur berjamaah seluruh jamaah bersalaman, akupun tak
menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut bersalaman dengan jamaah lainnya.
Seusana yang penuh keakraban dan kekeluargaan
ditunjukkan oleh jama’ah masjid, salah satu jamaah bertanya kepadaku….”mikak urang mane?” tanya salah satu
jamaah yang sudah tua kepadaku, aku bingung mau jawab apa, karena aku belum
paham dan mengerti bahasa masyarakat setempat, untuk ada salah seorang anak
muda dia adalah pemuda desa yang sedang pulang kampung liburan semester, anak
muda itu menterjemahkan pertanyaan orang itu kepadaku…”maaf pak, maksud beliau
bapak orang mana?...ucapnya kepadaku. Oh, aku asli orang Palembang pak, aku
baru hari ini bertugas mengajar di SMP di desa ini namaku heri pak, kemudian si
bapak tadi bertanya lagi…. “Ngayau-ngayau
be kerumah”, lagi-lagi aku binggung mau jawab apa. Si pemuda itu kemudian
pakai bahasa Indonesia, maksudnya pak heri diajak main kerumah, tegasnya. Dan
Alhamdulillah berkat aku rajin ikut berjamaah di masjid akhirnya lama kelamaan
masyarakat mulai mengenalku, dan perasaan terharu kembali muncul dihati, ketika
beberapa orang masyakarat yang mengenalku mengajak makan dan nginap dirumahnya.
Sungguh ini pengalaman yang tak terlupakan.
Sehabis Isya’ aku pulang kerumah dan
mengembalikan motor yang kupinjam milik kak iwan kerumahnya dan akupun bergegas
pulang untuk istirahat. Sudah tiga hari aku tinggal di desa itu, aku lupa
sebagai warga negara yang baik dan sebagai warga masyarakat baru yang pertama
kulakukan adalah melapor ke pemerintatah desa setempat atau ketua RT. Ditemani
kaki wan aku datang ke rumah pak RT namanya pak Darmadi beliau sangat ramah dan
menerimaku penuh dengan kekeluargaan, senang benar hati rasanya sudah melapor
sebagai warga baru dan secara administrasi aku mengurus pindah jiwa dari tempat
kampung halaman tanah kelahiranku ke tempat yang baru. Alhamdulillah dua hari
urusanku pindah jiwa selesai di Disdukcapil Belitung Timur dan terbitlah kartu
tanda penduduk (KTP) baruku.
Setelah kujalani bertugas di desa cendil, tidak
terasa masa kerjaku sudah 4 tahun mengajar di desa itu, kemudikan aku mutasi ke
SMP di kecamatan gantung walaupun terasa berat untuk mutasi dikarenakan di
tempat lama aku merasa sudah menyatu dengan masyarakatnya dan kuanggap sebagai
tempat kelahiranku sendiri. Aku mulai beradaptasi dengan lingkungan baru,
ditempat tugas baru aku mempunyai semangat baru untuk berkompetisi di ajang
lomba guru. Dengan tekat yang bulat aku ikut lomba guru berprestasi 2018
diadakan secara berjenjang, mulai dari seleksi ditingkat sekolah, tingkat
kecamatan, kabupaten sampai ketingkat nasional.
Alhamdulillah
dalam ajang lomba guru berprestasi tersebut aku sampai ke tingkat nasional,
sungguh pengalaman yang tidak dapat aku bayangkan sebelumnya, aku bertemu
dengan guru-guru super hebat dan penuh inovasi dari 33 provinsi dan aku
mewakili propinsi kepulauan Bangka Belitung, perasaan haru dan senang ketika
acara pembukaan di hotel Aryaduta Jakarta hotel bintang lima tempat kami
menginap dan tempat lomba guru berprestasi tingkat nasional. Tidak dapat
dibayangkan seorang anak tukang jahit bisa berdiri dipanggung kebanggaan guru,
impian saya delapan tahun yang lalu akhirnya mulai terwujud, saya berprinsip
apapun yang kita inginkan asalkan kita mau berusaha pasti akan tercapai, aku
semakin sadar bahwa segala kesuksesan yang kita raih merupakan buah dari
motivasi orang tua, istri dan keuletan dan ketekunan kita dalam belajar, dan
apabila itu semua aku lakukan pasti semua mimpi kita akan terwujud.







0 komentar:
Posting Komentar