Sabtu, 20 Februari 2021

 

(CERPEN PERJALANAN HIDUP)

Mimpi Si Anak Tukang Jahit

Oleh,

Heriyanto,S.H.I.

 

 

Aku seorang anak desa, yang dibesarkan dilingkungan desa. Ayahku seorang tukang jahit tinggal di sebuah desa bernama Seri Tanjung, berlokasi disebuah titik dibagian tengah sumatera selatan.  Setiap hari ayahku sibuk mengayuh mesin jahit, sedangkan masyarakat di kampungku bekerja kerja berbagai profesi ada petani, pedagang, sopir dan guru. Di kebun mereka menyadap karet, menyadap karet merupakan sebagaian besar mata pencaharian marayarakat di kampungku. Hasil sadapan getah karet dijual kepada pengepul untuk dikirim ke kota palembang, Setiap hari, ayahku menghabiskan waktu di mesin jahit untuk menyelesaikan pesanan langanannya.  Mekipun orang desa tulen, janganlah aku dipandang enteng. Yang jelas, sekarang aku adalah orang yang mempunyai semangat yang kuat untuk maju, karena bagiku asal ada kemauan yang keras pasti apa yang kita inginkan pasti bisa kita raih.

Aku masih ingat betapa sulitnya mencari pekerjaan ketika menyelesaikan S1 di salah satu Universitas Negeri di kota Palembang. Sehingga pada tahun 2009 aku memutuskan untuk merantau ke pulau belitung, sendirian lagi. Aku harus membuktikan bahwa aku harus bisa mandiri tidak lagi bergantung kepada kedua orang tua. Kapal ekspres bahari membawaku menyeberang dua pulau hingga menjelang malam aku sampai di pelabuhan yang aku lihat diplang pelabuhan bernama LASKAR PELANGI. Niat dan haparanku saat itu hanya ikut tes CPNS dan bertekad lulus untuk merubah hidupku.

Sebagai anak pertama, aku harus memberikan contoh bagi adik-adikku yang diharapkan bisa berhasil di rantau. Ketika melihat pengumuman tes CPNS, namaku tertulis di pengumuman melalui koran, betapa bersyukurnya aku karena diberi kesempatan oleh Allah swt karena mendapatkan pekerjaan yang mapan. Kemudian aku disibukan dengan pemberkasan yang sangat melelahkan, hujan yang deras mengiringi langkahku menuju pulau belitung untuk mengumpulkan berkas mendapatkan persetujuan NIP oleh BKN. Selama satu bulan aku menunggu kepastian, akhirnya yang dinantikan datang juga. Tepat tanggal 1 Januari 2010 aku mendapatkan SK CPNS dan ditempatkan suatu desa yang sangat jauh dari keramaian. Setelah melapor kepada kepala sekolah tempat aku ditugaskan, aku bergegas mencari rumah dinas di sekitar sekolah karena aku tidak mempunyai biaya untuk mengontrak atau ngekos. Sang kepala sekolah menunjukkan salah satu rumah kopel bejejer satu pintu untuk tempat saya tinggal. Rumah yang tidak begitu cocok dan kurang layak huni untuk aku tempati, WC dan kamar mandi tidak ada, begitupun instalasi listrik belum tersambung, pintu rumah pun darurat dari triplek bekas.

Malam hari pertama tinggal di rumah itu, aku paksakan untuk tetap tinggal, karena tidak ada pilihan lain, bersandarkan tas sebagai bantal dan kertas koran bekas sebagai alas untuk tidur, perut teras lapar hanya ada satu air galon isi ulang yang sengaja aku bawa untuk minum. Ketika malam mulai gelap, aku melihat hp untuk melihat jam, waktu itu jam di hp menunjukkan pukul 19.00 malam, aku bergegas mandi di kamar mandi sekolah yang jaraknya 30 meter, suasana gelap perasaan takut menghantuiku maklamu malam pertama menginjakkan kaki di negeri orang. Sehabis mandi perut mulai keroncongan dan kuambil mie instan untuk kumakan, baru sesuap makan mie instan. Ada suara dari seseorang yang memanggil namaku…“Assalamu’alaikum……” terdengar lantang dari luar rumah….langsung ku jawab “Wa’alaikum salam”…. Rupanya tetangga dekat rumah sama-sama perantau dari Palembang…namanya iwan, karena umurnya lebih tua dariku beliau kupanggil sebutan kak wan, ada apa kak? Tanyaku kepadanya…gini dek malam ini adek usah paksakan tinggal disini dulu, biar nginap dirumah kakak dulu ……sambutnya kepadaku. Jujur waktu itu hatiku malu dan merasa tidak enak hati karena kak iwan dan yuk yus istrinya orangnya begitu baik, sudah membantu semenjak aku datang sore hari sampai membantuku memperbaiki pintu rumah dan instalasi listrik, perasaan ragu menghapiriku antara perasaan tidak enak sudah banyak merepotkan dan juga perasaan belum siap tinggal sendiri beradaptasi dirantau orang.

Malam itu juga kuputuskan untuk menerima tawaran kak iwan dan yuk yus untuk tinggal rumahnya, sesampainya dirumah aku ditawari makan, minum, dan yang lebih mengharukan lagi aku diberikan nasehat oleh kak iwan…… “ri, kalau kamu lapar usah malu makan saja, jangan membiarkan lapar nanti kamu sakit, apapun yang ada dirumah ini baik itu makanan minuman, makan minum saja anggaplah sebagai rumahmu sendiri” ucapn kak iwan kepadaku. Begitu terharunya hatiku tak terasa air mataku menetes betapa baiknya keluarga ini, meskipun baru kenal dan pertama kali bertemu denganku, keluarga bukan, sahabat pun bukan, tapi tetap bertutur kata baik dan sopan serta mau menolong, pelajaran dan pengalaman yang dapat kupetik dari keluarga ini. Malam berganti siang, akupun bergegas mengosok pakaian dan mandi karena itu hari pertamaku melaksanakan tugas sebagai guru. Ada 7 orang CPNS baru yang sama-sama ditempatkan di sekolahku.

Pada awalnya terasa sulit bagiku ketika berinteraksi dengan masyarakat di lingkungan tempat aku bertugas dan dengan siswa khususnya, perbedaan bahasa dengan tempat tinggalku sangat jauh, sehingga dihari pertama bertugas terpaksa aku menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang kugunakan waktu berinteraksi dihari pertama bekerja. Waktu itu aku ingat pesan orang tuaku dikampung ketika pertama kali menginjakan kaki dirantau tempat yang paling tepat untuk mengenalkan diri sebagai warga masyarakat baru dan mengenalkan diri yaitu masjid. Bergegaslah aku menunaikan salat zuhur dengan meminjam motor kak iwan di masjid desa tempat aku bertugas. Setelah melaksanakan salah zuhur berjamaah seluruh jamaah bersalaman, akupun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut bersalaman dengan jamaah lainnya.

Seusana yang penuh keakraban dan kekeluargaan ditunjukkan oleh jama’ah masjid, salah satu jamaah bertanya kepadaku….”mikak urang mane?” tanya salah satu jamaah yang sudah tua kepadaku, aku bingung mau jawab apa, karena aku belum paham dan mengerti bahasa masyarakat setempat, untuk ada salah seorang anak muda dia adalah pemuda desa yang sedang pulang kampung liburan semester, anak muda itu menterjemahkan pertanyaan orang itu kepadaku…”maaf pak, maksud beliau bapak orang mana?...ucapnya kepadaku. Oh, aku asli orang Palembang pak, aku baru hari ini bertugas mengajar di SMP di desa ini namaku heri pak, kemudian si bapak tadi bertanya lagi…. “Ngayau-ngayau be kerumah”, lagi-lagi aku binggung mau jawab apa. Si pemuda itu kemudian pakai bahasa Indonesia, maksudnya pak heri diajak main kerumah, tegasnya. Dan Alhamdulillah berkat aku rajin ikut berjamaah di masjid akhirnya lama kelamaan masyarakat mulai mengenalku, dan perasaan terharu kembali muncul dihati, ketika beberapa orang masyakarat yang mengenalku mengajak makan dan nginap dirumahnya. Sungguh ini pengalaman yang tak terlupakan.

Sehabis Isya’ aku pulang kerumah dan mengembalikan motor yang kupinjam milik kak iwan kerumahnya dan akupun bergegas pulang untuk istirahat. Sudah tiga hari aku tinggal di desa itu, aku lupa sebagai warga negara yang baik dan sebagai warga masyarakat baru yang pertama kulakukan adalah melapor ke pemerintatah desa setempat atau ketua RT. Ditemani kaki wan aku datang ke rumah pak RT namanya pak Darmadi beliau sangat ramah dan menerimaku penuh dengan kekeluargaan, senang benar hati rasanya sudah melapor sebagai warga baru dan secara administrasi aku mengurus pindah jiwa dari tempat kampung halaman tanah kelahiranku ke tempat yang baru. Alhamdulillah dua hari urusanku pindah jiwa selesai di Disdukcapil Belitung Timur dan terbitlah kartu tanda penduduk (KTP) baruku.

Setelah kujalani bertugas di desa cendil, tidak terasa masa kerjaku sudah 4 tahun mengajar di desa itu, kemudikan aku mutasi ke SMP di kecamatan gantung walaupun terasa berat untuk mutasi dikarenakan di tempat lama aku merasa sudah menyatu dengan masyarakatnya dan kuanggap sebagai tempat kelahiranku sendiri. Aku mulai beradaptasi dengan lingkungan baru, ditempat tugas baru aku mempunyai semangat baru untuk berkompetisi di ajang lomba guru. Dengan tekat yang bulat aku ikut lomba guru berprestasi 2018 diadakan secara berjenjang, mulai dari seleksi ditingkat sekolah, tingkat kecamatan, kabupaten sampai ketingkat nasional.

            Alhamdulillah dalam ajang lomba guru berprestasi tersebut aku sampai ke tingkat nasional, sungguh pengalaman yang tidak dapat aku bayangkan sebelumnya, aku bertemu dengan guru-guru super hebat dan penuh inovasi dari 33 provinsi dan aku mewakili propinsi kepulauan Bangka Belitung, perasaan haru dan senang ketika acara pembukaan di hotel Aryaduta Jakarta hotel bintang lima tempat kami menginap dan tempat lomba guru berprestasi tingkat nasional. Tidak dapat dibayangkan seorang anak tukang jahit bisa berdiri dipanggung kebanggaan guru, impian saya delapan tahun yang lalu akhirnya mulai terwujud, saya berprinsip apapun yang kita inginkan asalkan kita mau berusaha pasti akan tercapai, aku semakin sadar bahwa segala kesuksesan yang kita raih merupakan buah dari motivasi orang tua, istri dan keuletan dan ketekunan kita dalam belajar, dan apabila itu semua aku lakukan pasti semua mimpi kita akan terwujud.

 

 

0 komentar:

Posting Komentar