Berusaha
Menjadi Guru yang Ikhlas
Oleh, Heriyanto,S.H.I.
Guru SMP Negeri 4 Gantung
Kata “ikhlas” mudah diucapkan,
namun sulit untuk diamalkan dan dijalankan. Sebab, selalu dicampuri oleh faktor
niat lain yang bisa menimbulkan riya, seperti mengharapkan popularitas dan
mudah naik jabatan. Rasa ikhlas berada dalam hati seseorang yang tidak bisa
diteliti dan dilihat dengan mudah. Ikhlas didefinisikan sebagai perbuatan yang
dilakukan semata-mata mencari keridhaan Allah dan memurnikan perbuatan dari
segala bentuk kesenangan duniawi. Apabila seorang guru dalam menjalankan
tugasnya dilakukan dengan penuh keikhlasan, maka guru tersebut merupakan guru
yang sangat luar biasa. Mengapa? karena melihat dari definisi ikhlas di atas,
tentunya seorang guru dalam menjalankan tugasnya yaitu mendidik dan mengajar
hanya karena Allah dan kesenangan duniawi (gaji yang diperoleh) tidak menjadi
prioritas utama
Sementara, semenjak
diterbitkannya Undang-undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005, bagi guru yang
telah memiliki sertifikat pendidik (sertifikasi) berhak mendapatkan tunjangan
sertifikasi di luar gaji pokoknya. Hal ini sebagai pemicu menjadikan profesi
guru menjadi salah satu profesi yang bergengsi. Terbukti dengan semakin
banyaknya peminat untuk menjadi guru, baik untuk guru pada pendidikan dasar
maupun pendidikan menengah. Selain itu, dengan adanya tunjangan sertifikasi
mampu memberikan motivasi bagi guru yang belum terkualifikasi untuk melanjutkan
pendidikan kembali ke jenjang pendidikan tinggi, yaitu minimal diplomat empat
atau sarjana. Sebagai salah satu syarat kualifikasi sertifikasi, selanjutnya
menempuh Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk mendapatkan sertifikat pendidik. Tantangan
besar bagi seorang guru untuk berperilaku ikhlas adalah ketika diuji oleh
terhambatnya pencairan tunjangan sertifikasi. Hal ini kerap menimbulkan reaksi
untuk melakukan demo kepada pemerintah agar dengan segera mencairkan tunjangan
sertifikasi karena itu sudah menjadi hak yang harus diterima oleh guru.
Sementara, waktu yang diambil ketika melakukan aksi tersebut merupakan waktu
efektivitas pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah dan siswa
menjadi korbannya karena tidak ada yang mengajar.
Apalagi bagi guru yang
berstatus honorer, ujian untuk berperilaku ikhlas lebih besar lagi. Dengan gaji
yang diberikan kepadanya jauh dari kesejahteraan, sementara tugas dan beban
kerja yang ditanggung sama besarnya dengan guru yang berstatus Pegawai Negeri
Sipil (PNS). Sehingga, diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh dan usaha
keras untuk menghindari timbulnya penyakit hati yang bisa merusak keikhlasan. Menjadi
guru yang ikhlas merupakan sebuah keharusan yang harus ditempuh, karena
sejatinya profesi guru adalah profesi mulia dan sebuah kehormatan. Hal ini
seperti yang diungkapkan oleh Nadiem Makarim, selaku Menteri pendidikan dan
Kebudayaan (Mendikbud) yang menyatakan bahwa guru pantas mendapat kehormatan
karena mereka selama ini menjalankan peran terhormat bagi bangsa. Menurutnya,
terdapat dua ide sederhana yang diajukan untuk menunjukkan rasa hormat kepada
guru, pertama melalui jalur negara dan kedua, melalui jalur gerakan masyarakat.
Menjadi guru yang ikhlas
merupakan sebuah keharusan yang harus ditempuh, karena sejatinya profesi guru
adalah profesi mulia dan sebuah kehormatan. Hal ini seperti yang diungkapkan
oleh Anies Baswedan, selaku Menteri pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang
menyatakan bahwa guru pantas mendapat kehormatan karena mereka selama ini
menjalankan peran terhormat bagi bangsa. Menurutnya, terdapat dua ide sederhana
yang diajukan untuk menunjukkan rasa hormat kepada guru, pertama melalui jalur
negara dan kedua, melalui jalur gerakan masyarakat. Pada jalur negara, negara
harus memberikan jaminan kesehatan bagi guru dan keluarganya, tanpa terkecuali.
Selain itu, negara juga harus menyediakan jaminan pendidikan bagi anak-anak
guru. Sementara pada jalur masyarakat, menghormati guru harus dimulai secara
kolosal. Misalnya, bagi para dokter dan tenaga medis, gurulah yang mengajarimu
sehingga bisa berseragam putih maka sambutlah mereka sebagai VIP di tempatmu merawat.
Penulis sebagai guru juga menyadari, jika sampai saat ini masih belum bisa
menjadi guru yang ikhlas sepenuhnya, karena masih dibarengi dengan niat untuk
mencari materi dalam rangka menafkahi keluarga. Namun, dengan adanya kepedulian
dari negara maupun masyarakat terhadap profesi guru. Mudah-mudahan hal ini bisa
menjadi jalan untuk menjadi guru yang ikhlas, sehingga semua guru bisa
menciptakan generasi berkualitas melalui keikhlasan yang nyata.








0 komentar:
Posting Komentar