(CERPEN)
Harapan untuk Ibu Tercinta
Oleh, Heriyanto,S.H.I.
Hari-hariku di kampus di penuhi dengan
kegiatan di orgamawa. Ditambah dengan jadwalku memberi les. Semua terasa berat,
ingin rasanya aku memiliki satu hari yang khusus dihadiahkan untukku. Agar aku
bisa beristirahat. Sedikit menghirup udara segar dan terbebas dari rutinitas
dunia kampus. Aku adalah mahasiswi kos di dekat kampus. Rumahku yang jauh
membuatku selalu rindu dengan kedua orang tuaku. Terutama ibu. Kini, aku
belajar mengatur rumah kecil, dapur dan keuanganku. Otak seperti dikuras habis
untuk memikirkan kuliyah, organisasi, les, kebutuhan, tugas dan seabrek
catatan-catatan hidupku yang harus aku pikirkan. Seolah-olah, otak ini sudah
mendidih. Layaknya satan kelapa, yang masih saja dipaksa diambil santannya.
Seperti aku yang selalu memaksa otakku untuk terus berpikir dan berpikir.
Bagaimana hidupku terus berjalan dan maju ke depan. Rasa capek dan bosan sering
membuat sikap malas menghinggapiku.
Tapi, aku selalu mencoba menepisnya. Aku tak ingin
perjuangan orang tuaku di desa dengan bekerja keras sia-sia hanya karena sikap
malasku. Aku ingin kuliah dengan benar, dan sungguh-sungguh. Aku tak ingin
mengecewakan mereka. Aku lantas beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju
kamar mandi. Aku sambar handuk diatas kasur, dan dengan menarik napas
dalam-dalam aku berkata. “Aku harus semangat..! Kamu tidak boleh malas, Nay.”
Kataku sendiri mencoba untuk menyemangati. Aku buka buku yang terlihat besar
dan lebih lebar dari bukuku yang lain. Aku mencoba melihat pekerjaanku kemarin.
“Huft…, apanya yang salah, ya?!” Tanyaku yang bingung sekali. Beginilah
pekerjaanku sebelum hari rabu tiba. Mengerjakan tugasku akuntansi. Karena aku
mengambil prodi akuntansi, mau tidak mau aku harus bergelut dengan angka-ngka
yang aku sendiri tak tahu. Berapa jumlah uang sebenarnya. Aku terkadang
berfikir, bagaimana jika pekerjaan akuntansi yang aku kerjakan ini benar-benar
ada uangnya. Niscaya aku akan bingung bukan kepalang.
Menghitung perhitungannya saja aku terkadang kebingungan.
Belum lagi saldo yang tidak balance. Apalagi ditambah menghitung uangnya. Pasti
aku akan kebingungan. Meskipun begitu, Akuntansi adalah mata pelajaran yang aku
sukai ketika aku masih di SMK. Oleh karena itu, aku ingin melanjutkan
pengetahuanku mengenai akuntansi di jenjang perguruan tinggi ini. Aku merasakan
kesenangan tersendiri dengan kumpulan angka-angka yang menarik itu.
Perhitungannya jelas. Rumus-rumusnya juga jelas. Misalnya, saat kita membeli
suatu mesin. Tenti saja, kalau kita ingin membeli sesuatu barang, maka uang
kita akan berkurang (Termasuk asset lancar yaitu kas). Dan kita akan mempunyai
mesin baru yang biasa di sebet asset (Asset yang bertambah yaitu asset tetap,
mesin). Mudah sekali mempelajari akuntansi. Saat kita mengerjakan, anggap saja
perusahaan itu adalah milik kita. Dan saat mengerjakannya, anggap pula kita
sedang mengerjakan laporan perusahaan kita sendiri.
Dengan begitu, belajar akan lebih menyenangkan.
Jika kamu mendapati ketidakseimbangan pada saldonya, lebih baik lanjutkan
pekerjaannya esok hari. Sungguh, aku akan malas untuk melanjutkan pekerjaanku
jika saldonya tidak balance. Bukan bermaksud menunda-nunda. Tapi aku ingin
mengistirahatkan pikiran. Berharap, esok pikiranku akan segar kembali. Dan bisa
meneliti pekerjaaanku. Salah satu kelemahanku adalah, kurangnya ketelitian dan
kecermatan dalam mengerjakannya. Meskipun aku memahami materinya, kecermatan
sangat penting dalam mengerjakannya. Mataku pun sudah mulai membengkak karena
kelelahan aku ajak begadang. “Lebih baik, aku selesaikan besok malam saja.”
Kataku sambil menutup buku. Aku langsung membaringkan tubuhku di atas ranjang. “Nay,
saldonya berapa?” Tanya Rini. “Aku belum selesai, Rin.” Jawabku setelah
menyedot es teh yang ada dalam gelas plastik. “Ngapain sih, rame-rame?” Tanya
Nana. “Na, saldo soal akuntansinya Bu Priska berapa?” Tanya Rini. Ia adalah
temanku yang kurang begitu paham dengan pelajaran akuntansi. Tapi aku salut
dengan semangatnya. Ia selalu bertanya padaku, jika ia selesai mengerjakannya.
Berusaha untuk mencocokkan, dan jika jawabannya berbeda dan salah. Ia akan
segera membenahinya.
Pernah suatu kali, ia datang pagi-pagi ke
kosku untuk mencocokkan pekerjaannya yang salah. Sekarang ia tampak kebingungan
sekali. Yang ngerti akuntansi saja belum selesai mengerjakannya. Aku bisa
melihar raut wajah kepanikan dari sikapnya. “Jangankan mengerjakannya, soalnya
saja aku tidak tahu…,” Jawab Nana dengan santai dan terlihat tanpa beban. Tapi,
mereka adalah teman-teman yang selalu memberiku semangat. Teman-teman yang
selalu membuatku tersenyum. Mengobati kerinduanku terhadap ibu dan bapak. Usai
mengerjakan soal akuntansi, aku membereskan buku-buku di rak yang berantakan.
Akupun memasukkannya ke dalam kardus agar rakku tidak penuh dengan buku.
Tiba-tiba aku menemukan kotak berwarna cokelat. Aku ingat, ini adalah kotak kue
yang dulu pernah aku berikan untuk ibuku. Tepat di hari ibu dan di hari ulang
tahun ibuku. Aku langsung menuju kalender yang menempel di dinding kamarku.
Mataku terus berjalan mencari bulan, kemudian mencari hari. Mataku pun kemudian
berjalan menuju Kotak yang bertuliskan angka. Tampak angka 12. Kurang sepuluh
hari adalah hari ibu dan tepat ulang tahu ibuku.Aku kemudian duduk di atas
kasur. Aku terus mengamati kotak kue dari kardus itu.
Aku sengaja menghias kotak itu dengan kertas
dan daun kering, agar terlihat cantik dan menarik. Seperti membuat herbarium,
waktu aku masih SMP dulu. Tugas biologi mengeringkan daun atau mengawetkannya.
Aku menata daun-daun kering itu dan menempelkannya pada kardus. Sangat cantik
dan cukup mebuat ibuku tersenyum senang dan bahagia. “Ingin sekali aku melihat
senyum dan kebahagiaan itu kembali dari raut wajahnnya.” Kataku yang mulai
sedih terbawa suasanya. Aku sudah lama tidak pulang ke rumah. Tugasku memberi
les dan kegiatan di organisasi cukup membuatku kualahan. Antara tanggungjawab
dan kerinduan teramat dalam pada kampung halaman. ‘Aku ingin pulang, ibu..,
bapak..,’ Teriakku tertahan. Aku peluk kotak itu erat-erat. Kotak cinta untuk
ibu yang mungkin akan aku buat lagi di tahun ini. Kotak Cinta yang selalu aku
buat khusus untuk ibuku. Di hari ibu dan dihari ulang tahunnya. Malam minggu
ini, langit begitu cerah. Ramai dengan bintang bertebaran di langit.
Hamparan luas bintang terasa kurang lengkap
tanpa hadirnya bulan. Seperti kehidupanku. Banyak teman disekelilingku, tapi
kehadiran ibukulah yang paling berharga dalam hidupku. Membuat hidupku jauh
lebih lengkap. Angin malam menerpa kulitku, terasa dingin hingga menusuk
tulang. Seketika bulu-bulu di kaki dan tanganku langsung berdiri, meski
berbalutkan jaket dan rok panjang. Aku lantas menarik resleting jaketku ke
atas. Agar dinginnya angin malam tidak mengusikku. Aku mulai berpikir untuk
memberikan sesuatu yang berkesan di hati ibuku. Momen yang aku nanti-nantikan.
Aku ingin memberikan kotak cinta itu untuk ibu. “Kira-kira, aku ingin mengisi
kotak itu dengan apa, ya?” pikirku. “Nay, ngelamun apa, sih?” Tanya Rini.
“Ah.., tidak, Rin. Aku tidak melamun, kok.” Jawabku. Dibilang kaget, aku
jawabnya juga santai. Dibilang tidak kaget, masih mikir juga untuk menjawab
pertanyaan Rini. “Sabtu depan pulang, kan?” Tanya Rini. “InsyaAllah.., semoga
di kampus tidak ada acara dan kegiatan. Aku ingin pulang, Rin. Aku kangen ibu
dan bapak. Terutama Nila adikku. Sudah lama aku tidak pulang dan berkumpul
mereka.” Kataku berbagi beban di pundak ini pada sahabatku. “Aku tahu, Nay.
Kalau kamu mau, kamu pakai saja uangku dulu untuk pulang.” Rini menawarkan
bantuan. “Tidak usah, Rin. Kamu kan juga butuh uang untuk pulang.” Aku berusaha
menolaknya. “Tidak apa-apa, Nay. Aku sabtu depan ada acara di kampus. Jadi, aku
tidak pulang.” Rini menjelaskan.Aku pun terdiam sejenak untuk memikirkan
tawaran Rini. Antara senang dan perasaan tidak enak pada Rini. Senang karena
aku bisa pulang dan bertemu dengan ibu, bapak, dan Nila. Tapi, Rini sudah
terlalu banyak menolongku. “Bagaimana, Nay?” Tanya Rini kembali, meminta
kepastianku. “Iya, Rin.” Aku pun menerima bantuan itu. Karena aku ingin sekali
bertemu dengan ibu.
Hari ini, aku pulang dengan hati yang berkecamuk
perasaan sedih. Mukaku terlihat nanar, dan air mata sudah mengumpul di ujung
mata. Aku tak bisa pulang sabtu depan. Ada kegiatan organisasi yang harus aku
selesaikan. Penggalangan dana untuk saudara-saudara yang sedang tertimpa
masalah di Gaza, akan diadakan sabtu depan. Dengan perasaan sedih, aku harus
mengikhlaskan. Aku sebagai penanggung jawab, tidak mungkin lari begitu saja.
Dimana integritasku jika aku pergi meninggalkan tanggungjawab itu? Dimana, Nay.
Aku mengambil kotak cinta itu. “Ibu, Selimut ini tidak akan datang di hari
ulang tahun ibu.” Aku memandangi kotak yang berisikan selimut berwarna biru.
Aku ingin ia menemani malam-malamnya. Aku ingin kehangatan melindungi tubuhnya.
Aku ingin selalu ada di dalam mimpi-mimpinya. Aku tutup kembali kotak itu, dan
kusimpan kembali dalam lemari. “Apa itu, Nay?” Tanya Rini, heran terhadap kotak
itu. “Ini hadiah ulang tahun ibuku” Jawabku dengan nada parau. “Aku tahu, kamu
tidak bisa pulang sabtu depan. Kamu sabar, ya..!” Rini menepuk bahuku. “Iya..”
Jawabku dengan senyum yang sedikit aku paksakan. Usai melakukan penggalangan
dana, aku langsung pulang. Dari pagi, aku dan teman-teman sudah terjun di
jalannan.
Membagi-bagikan bendera dan brosur, di tengah
terik matahari yang cukup panas. Kepalaku pusing, akibat terlalu lama berada di
bawah terik matahari. Kakiku terasa sakit dan memerah. Kakiku juga melepuh dan
berair. Karena tadi siang aku lupa memakai kaos kaki. Aku langsung membaringkan
tubuhku di atas ranjang. Aku merasakan timangan kasur nan empuk di kamarku.
Perlahan-lahan, diriku dibawa terbang ke awan. Menyusuri pulau nan indah
bersama ibuku. Kami sekeluarga terlihat gembira dan begitu menikmati. Aku
melihat senyum yang begitu natural, senyum yang terpancar dari hati. Sesuatu
yang ibu ekspresikan dengan tulus. Aku begitu senang melihat ibu bahagia.
“Buatlah ibu bangga, Nay. Jangan biarkan orang lain merendahkan dan meremehkan
kita. Aku yakin kamu pasti bisa membuat ibu tetawa dan bahagia lebih dari hari
ini.” Kata ibu memegang telapak tanganku. Tangannya begitu hangat. Aku hanya
memandang senyum yang masih merekah dari kedua bibir ibuku. Tatapanku penuh
tanya, dan otakku terus berpikir. Bukankah aku melihat tawa yang begitu lepas.
Tapi ibu menginginkan kebahagian yang lebih dari hari ini. ‘Aku memang belum
bisa membahagiakanmu, Bu. Engkau selalu berbohong dibalik senyummu.
Seolah-olah, engkau sudah merasa bahagia dengan apa yang ada. Tapi, kebohongan
yang engkau sembunyikan terlihat nyata. Engkau selalu merasa gembira, untuk
menyembunyikan kesedihan.
Engkau merasa sehat dengan menyembunyikan
sakitmu. Aku ingin engkau bahagia, lebih dari hari ini, hari esok, dan hari
esoknya lagi.’ Kata hatiku. Aku akan membahagiakanmu selamanya, bu. Ingin
sekali senyum itu nyata dari hatimu, tanpa ada yang engkau sembunyikan.
Perlahan-lahan genggaman ibu merosot dari genggamanku. Aku merasa kebingungan,
dan mencoba menahannya. Tapi, ujung jariku sudah menyentuk kukunya. Dan
tiba-tiba tangan ini sudah tak menggenggam tangannya lagi. “Ibu….,!” Teriakku
terkejut. Aku mencoba mengatur nafas dan mencoba memasuki duniaku yang
sebenarnya. Lelah dan kerinduan telah mengantarkanku pada mimpi bertemu dengan
ibu. Dan kotak itu secara tiba-tiba melintas di dalam pikiranku dan hinggap di
sana. Hari ini, bulan terlihat diantara bintang-bintang. “Andaikan aku ada
disamping ibu, aku akan sangat bahagia.” Kataku sambil memandangi langit. Aku
buka kotak yang ada di pangkuanku. Ternyata, selimut ini tak bisa menghangatkan
malamnya hari ini. Hari ulang tahunnya, dan hari ibu. Bagiku, hari ibu ada di
setiap hari dalam hidupku. Seperti hari-hari yang selalu ada do’a untuku,
anaknya.
Aku menarik selembar kertas dari bukuku.
Tanganku dengan lincah menari-nari di atas kertas itu, merangkai kata-kata.
Padahal aku bukan seorang pujangga. Tak perlu menjadi seorang pujangngga. Hanya
karena cinta, kata-kata indah akan tercipta dengan sendirinya. Meskipun
kata-kata cinta untuk ibu tidak seindah kata-kata cinta kahlil gibran, dan tak
seindah syair-syair Chairil anwar. Aku yakin, ibu bisa merasakan betapa aku
sangat mencintainya. “Aku berjanji, Bu. Meski ibu mengucapkannya dalam mimpi.
Aku yakin, itu adalah apa yang selama ini ibu harapkan. Apa yang selama ini ibu
tunggu-tunggu. Aku akan membuat ibu bahagia. Lebih dari hari ini dan hari
selanjutnya. Selimut ini akan menghangatkan malam-malam ibu. Jika Nayla pulang
nanti, bawalah ia untuk menemani tidurmu, Bu. Hanya ini yang bisa Nayla
berikan. Tak sebanding dengan kehangatan cinta ibu yang selalu
menghangatkanku.” Aku menitikkan air mata, dan jatuh dalam kotak itu. Air
mataku semakin mengalir deras. Mengingat perjuangan, kasih sayang dan cintanya
selama ini. Sekelebat kenanga-kenangan bersama ibu secara bergantian melintas
di hadapanku. Seperti diputarnya film yang dipertontonkan untukku. Tapi sayang,
air mata yang menetes banyak di dalam kotak tak akan meninggalkan bekas.
Andaikan ia bisa berubah menjadi kristal putih nan cantik, pancarkan keindahan
seperti kasih sayangnya selama ini.
Aku akan menyertakannya di dalam kotak itu dan
menghadiahkannya untuk ibu. Tapi, air mataku tak bisa kusulap menjadi butiran
kristal. Hanya ada selimut berwarna biru di dalam kotak. Kotak cinta yang akan
aku persembahkan untuk ibuku saat aku pulang nanti. Hanya itu yang bisa aku
berikan. Uang dari honor menulis cerpenku. Cerpen yang baru pertama kali
diterima oleh redaksi. Untukmu,Bu.., untukmu. “Tunggulah sampai anakmu pulang,
Bu. Nayla di sini baik-baik saja. Semoga ibu dapat tersenyum untuk selamanya.
Nayla berjanji, Bu.” Aku menghapus air mataku. Aku harus semangat, semangat! Aku
menutup kotak itu dan kubawa kedalam kamar. Aku memasukkannya dalam lemari.
“Tinggallah di sini sementara, kotakku. Sebentar lagi engkau akan bertemu
dengan ibu. Aku tahu, engkau pasti tidak sabar bertemu dengan ibu.” Aku
kemudian mengambil hp yang ada di tasku, hp lama pemberian dari keponakan ibu.
Tak apalah, dengan hp ini aku bisa mendengarkan lagu ‘Mother How Are You
Today’. Setidaknya, lagu ini bisa menjadi penenang jiwaku. Lagu yang ingin aku
sampaikan pada ibu. “Tunggu aku pulang, Bu. Aku sangat mencintaimu” Kataku
dengan tersenyum di balik kerinduan yang teramat dalam.








0 komentar:
Posting Komentar