Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Kamis, 25 Februari 2021

 


Membangkitkan Budaya Literasi di Masa Pandemi

Oleh,

Heriyanto Helmi,S.H.I.

Guru SMP Negeri 4 Gantung

 

Hingga saat ini masa pandemi tak kunjung berakhir, bahkan kian meresahkan. Masyarakat tak bisa lagi melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari sehingga banyak yang memilih beraktivitas dari rumah. Belajar dari rumah, bekerja pun dari rumah (work from home). Covid-19 berdampak pada semua bidang, tidak terkecuali aktivitas literasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi merupakan kemampuan menulis dan membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup. Perolehan berbagai informasi pengetahuan tentu saja melalui aktivitas baca tulis.  Ini menandakan bahwa literasi tidak dapat dilepaskan dengan kemampuan berbahasa. Education Development Center (EDC) juga turut menjabarkan pengertian litersi, yakni kemampuan individu menggunakan potensi yang dimilikinya dan tidak sebatas kemampuan baca tulis saja. Budaya berliterasi harus dibiasakan oleh masyarakat karena berliterasi sangat dibutuhkan untuk mengembangkan potensi dan menggali pengetahuan bagi tiap individu. Literasi jangan dipikir hanya untuk menguntungkan negara, tetapi literasi juga merupakan kebutuhan warga. Ada begitu banyak orang yang akhirnya sukses melalui literasi.

Hal ini dapat dilihat dari karya-karya literasi dari penulis atau pengarang hebat, fiksi maupun nonfiksi. Ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap literasi masih sangat kurang. Salah satu faktor pendorong kurangnya minat masyarakat adalah rasa malas. Kebanyakan orang menilai bahwa membaca teks yang panjang adalah hal yang sangat menjenuhkan dan memikirkan ide untuk menulis juga memenatkan kepala, sehingga memilih untuk tidak melakukannya sama sekali. Tak hanya itu, kebanyakan individu lebih senang membaca buku atau tulisan yang banyak gambarnya. Hal seperti ini perlu dievaluasi, kita harus memperbaiki lagi pemikiran kita mengenai konsep membaca. Pada masa pandemi, aktivitas literasi ikut berpengaruh. Pandemi juga mengubah aktivitas literasi dari kegiatan langsung atau tatap muka ke bentuk daring. Sebelum pandemi ada banyak pelatihan literasi yang dibuka secara umum. Pelatihan tersebut yang semula diadakan secara terbuka kini berganti melalui daring. Sebelum pandemi corona melanda, berbagai pelatihan literasi juga sudah dilakukan secara daring, tapi ketika pandemi, aktivitas literasi ini pun semakin sering dilakukan secara daring. Berbagai penyelenggaraan event literasi ditiadakan atau digantikan secara daring.

Pelaksanaan berbagai lomba literasi juga dibatasi karena minimnya anggaran. Covid-19 yang melanda telah membuat anggaran suatu lembaga atau pemerintahan menjadi terbatas. Apalagi pemerintah, banyak angggaran yang harus dialihkan ke penanganan Covid-19. Selain itu, acara seperti bedah film atau bedah buku juga harus dilakukan via daring. Acara yang mengundang penulisnya langsung ini pun tak dapat dilakukan secara langsung. Jika biasanya kita dapat bertemu langsung dan menyaksikan orang hebat itu berbicara, kini kegiatan itu harus kita pendam dalam-dalam dan menggantinya dengan kegiatan video call. Tentunya berbeda, tanggapan para pendengar akan sedikit kurang karena prosesnya dilakukan melalui layar kaca handphone/laptop. Walau demikian, pandemi ini tidak hanya berdampak negatif, tapi juga berdampak positif.  Namun, ada hal positifnya pula, di mana pada masa pandemi yang membuat kita bosan di rumah akan tertarik melakukan kegiatan daring guna mengasah bakat dan mengisi waktu kosong.

Karena hal itu, kegiatan ini juga sedikit demi sedikit dapat membangun budaya literasi dan menjadi wahana mengasah bakat masyarakat. Rasa bosan yang melanda juga mungkin menjadi faktor pemicu bagi orang yang hobi membaca dan menulis. Kejenuhan di rumah telah membuat orang banyak mengakses tulisan melalui media digital untuk menambah pengetahuan atau sekadar hiburan. Bagi penulis berada di rumah merupakan kesempatan yang sangat baik dalam menuangkan ide, gagasan, dan pikiran. Hal ini juga suatu cara bagi penulis untuk mengusir kejenuhan. Mungkin dimulai dengan menulis hal-hal sederhana tentu dengan diawali dengan membaca tulisan orang lain. Kemampuan menulis memang tidak bisa dipisahkan dari ketekunan membaca. Bahkan ada adagium yang menyatakan: penulis yang hebat adalah pembaca yang lahap (membaca apa saja).

Tulisan yang kita buat akan membawa manfaat bagi orang lain. Bisa menambah pengetahuan dan wawasan. Tentu juga menjadi suatu hal yang menginspirasi selain menjadi landasan bagi orang lain dalam bertindak dan berpikir. Intinya, tidak ada karya tulis yang sia-sia.  Kemampuan menulis pastinya tidak hanya didapatkan begitu saja. Kemampuan yang mereka dapatkan telah banyak diasah dan telah melalui proses yang panjang. Nah, berada di rumah merupakan kesempatan yang baik bagi mereka yang hobi menulis untuk berproses dalam menuangkan ide. Semangat literasi dalam menulis juga didukung oleh wadah atau publikasi seperti media massa cetak, media online, blog, media sosial, dan sebagainya. Apalagi media massa koran menyediakan rubrik untuk tulisan masyarakat yang dianggap layak, kemudian ikut dipublikasi.

Hal ini sangat membantu untuk menarik minat penulis dalam berkarya. Tak hanya media cetak, media online juga menyediakan wadah untuk mengembangkan minat dan skill masyarakat dalam hal menulis dan membaca. Seperti blog, di mana kita bisa menulis apa pun yang kita ingikan dan mempostingnya. Kita juga dapat membaca berbagai artikel yang ditulis orang-orang di blognya. Media massa telah menyediakan fasilitas menulis bagi mereka yang senang menulis artikel maupun karya lainnya. Bahkan di era saat ini, untuk memublikasikan tulisan tidak harus merogoh kocek dalam-dalam, karena kita kini tak harus membeli koran atau majalah. Kemudahan digital yang telah ditawarkan saat ini seharusnya dapat kita manfaatkan sebaik mungkin. Bila ada hal positif yang bisa dilakukan, mengapa tidak dilakukan? Berliterasi di masa pandemi merupakan suatu hal yang positif.

Selain akan mendapatkan informasi yang baik, kita juga dapat menghasilkan karya dan mendapat nama. Sehingga, saat masa pandemi berakhir kualitas individual kita menjadi lebih baik bukannya menurun. Rasa malas untuk berlitersi juga bisa kita singkirkan sedikit demi sedikit mulai saat ini. Buatlah lingkungan sekitar menjadi lingkungan dengan kegemaran literasi yang tinggi, dengan memberikan contoh dari diri sendiri, lalu meneruskannya dengan mengajak keluarga dan berlanjut ke kerabat, sahabat, dan masyarakat sekitar. Lingkungan sangat berperan untuk membentuk kesadaran. Hal ini dapat dibantu oleh faktor internal yang didapat dari dalam diri sendiri. Selain itu, juga akan meningkatkan kesadaran masyarakat sedikit demi sedikit mengembangkan budaya literasi, baik di masa pandemi maupun nanti, seusai pandemi. 




 

Rabu, 24 Februari 2021

 


Berusaha Menjadi Guru yang Ikhlas

 

Oleh, Heriyanto,S.H.I.

Guru SMP Negeri 4 Gantung

 

Kata “ikhlas” mudah diucapkan, namun sulit untuk diamalkan dan dijalankan. Sebab, selalu dicampuri oleh faktor niat lain yang bisa menimbulkan riya, seperti mengharapkan popularitas dan mudah naik jabatan. Rasa ikhlas berada dalam hati seseorang yang tidak bisa diteliti dan dilihat dengan mudah. Ikhlas didefinisikan sebagai perbuatan yang dilakukan semata-mata mencari keridhaan Allah dan memurnikan perbuatan dari segala bentuk kesenangan duniawi. Apabila seorang guru dalam menjalankan tugasnya dilakukan dengan penuh keikhlasan, maka guru tersebut merupakan guru yang sangat luar biasa. Mengapa? karena melihat dari definisi ikhlas di atas, tentunya seorang guru dalam menjalankan tugasnya yaitu mendidik dan mengajar hanya karena Allah dan kesenangan duniawi (gaji yang diperoleh) tidak menjadi prioritas utama

Sementara, semenjak diterbitkannya Undang-undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005, bagi guru yang telah memiliki sertifikat pendidik (sertifikasi) berhak mendapatkan tunjangan sertifikasi di luar gaji pokoknya. Hal ini sebagai pemicu menjadikan profesi guru menjadi salah satu profesi yang bergengsi. Terbukti dengan semakin banyaknya peminat untuk menjadi guru, baik untuk guru pada pendidikan dasar maupun pendidikan menengah. Selain itu, dengan adanya tunjangan sertifikasi mampu memberikan motivasi bagi guru yang belum terkualifikasi untuk melanjutkan pendidikan kembali ke jenjang pendidikan tinggi, yaitu minimal diplomat empat atau sarjana. Sebagai salah satu syarat kualifikasi sertifikasi, selanjutnya menempuh Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk mendapatkan sertifikat pendidik. Tantangan besar bagi seorang guru untuk berperilaku ikhlas adalah ketika diuji oleh terhambatnya pencairan tunjangan sertifikasi. Hal ini kerap menimbulkan reaksi untuk melakukan demo kepada pemerintah agar dengan segera mencairkan tunjangan sertifikasi karena itu sudah menjadi hak yang harus diterima oleh guru. Sementara, waktu yang diambil ketika melakukan aksi tersebut merupakan waktu efektivitas pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah dan siswa menjadi korbannya karena tidak ada yang mengajar.

Apalagi bagi guru yang berstatus honorer, ujian untuk berperilaku ikhlas lebih besar lagi. Dengan gaji yang diberikan kepadanya jauh dari kesejahteraan, sementara tugas dan beban kerja yang ditanggung sama besarnya dengan guru yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sehingga, diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh dan usaha keras untuk menghindari timbulnya penyakit hati yang bisa merusak keikhlasan. Menjadi guru yang ikhlas merupakan sebuah keharusan yang harus ditempuh, karena sejatinya profesi guru adalah profesi mulia dan sebuah kehormatan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Nadiem Makarim, selaku Menteri pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang menyatakan bahwa guru pantas mendapat kehormatan karena mereka selama ini menjalankan peran terhormat bagi bangsa. Menurutnya, terdapat dua ide sederhana yang diajukan untuk menunjukkan rasa hormat kepada guru, pertama melalui jalur negara dan kedua, melalui jalur gerakan masyarakat.

 

Menjadi guru yang ikhlas merupakan sebuah keharusan yang harus ditempuh, karena sejatinya profesi guru adalah profesi mulia dan sebuah kehormatan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Anies Baswedan, selaku Menteri pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang menyatakan bahwa guru pantas mendapat kehormatan karena mereka selama ini menjalankan peran terhormat bagi bangsa. Menurutnya, terdapat dua ide sederhana yang diajukan untuk menunjukkan rasa hormat kepada guru, pertama melalui jalur negara dan kedua, melalui jalur gerakan masyarakat. Pada jalur negara, negara harus memberikan jaminan kesehatan bagi guru dan keluarganya, tanpa terkecuali. Selain itu, negara juga harus menyediakan jaminan pendidikan bagi anak-anak guru. Sementara pada jalur masyarakat, menghormati guru harus dimulai secara kolosal. Misalnya, bagi para dokter dan tenaga medis, gurulah yang mengajarimu sehingga bisa berseragam putih maka sambutlah mereka sebagai VIP di tempatmu merawat. Penulis sebagai guru juga menyadari, jika sampai saat ini masih belum bisa menjadi guru yang ikhlas sepenuhnya, karena masih dibarengi dengan niat untuk mencari materi dalam rangka menafkahi keluarga. Namun, dengan adanya kepedulian dari negara maupun masyarakat terhadap profesi guru. Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi jalan untuk menjadi guru yang ikhlas, sehingga semua guru bisa menciptakan generasi berkualitas melalui keikhlasan yang nyata.

 

 

 

 

Senin, 22 Februari 2021

 


(CERPEN)

Harapan untuk Ibu Tercinta

Oleh, Heriyanto,S.H.I.

 

Hari-hariku di kampus di penuhi dengan kegiatan di orgamawa. Ditambah dengan jadwalku memberi les. Semua terasa berat, ingin rasanya aku memiliki satu hari yang khusus dihadiahkan untukku. Agar aku bisa beristirahat. Sedikit menghirup udara segar dan terbebas dari rutinitas dunia kampus. Aku adalah mahasiswi kos di dekat kampus. Rumahku yang jauh membuatku selalu rindu dengan kedua orang tuaku. Terutama ibu. Kini, aku belajar mengatur rumah kecil, dapur dan keuanganku. Otak seperti dikuras habis untuk memikirkan kuliyah, organisasi, les, kebutuhan, tugas dan seabrek catatan-catatan hidupku yang harus aku pikirkan. Seolah-olah, otak ini sudah mendidih. Layaknya satan kelapa, yang masih saja dipaksa diambil santannya. Seperti aku yang selalu memaksa otakku untuk terus berpikir dan berpikir. Bagaimana hidupku terus berjalan dan maju ke depan. Rasa capek dan bosan sering membuat sikap malas menghinggapiku.

Tapi, aku selalu mencoba menepisnya. Aku tak ingin perjuangan orang tuaku di desa dengan bekerja keras sia-sia hanya karena sikap malasku. Aku ingin kuliah dengan benar, dan sungguh-sungguh. Aku tak ingin mengecewakan mereka. Aku lantas beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Aku sambar handuk diatas kasur, dan dengan menarik napas dalam-dalam aku berkata. “Aku harus semangat..! Kamu tidak boleh malas, Nay.” Kataku sendiri mencoba untuk menyemangati. Aku buka buku yang terlihat besar dan lebih lebar dari bukuku yang lain. Aku mencoba melihat pekerjaanku kemarin. “Huft…, apanya yang salah, ya?!” Tanyaku yang bingung sekali. Beginilah pekerjaanku sebelum hari rabu tiba. Mengerjakan tugasku akuntansi. Karena aku mengambil prodi akuntansi, mau tidak mau aku harus bergelut dengan angka-ngka yang aku sendiri tak tahu. Berapa jumlah uang sebenarnya. Aku terkadang berfikir, bagaimana jika pekerjaan akuntansi yang aku kerjakan ini benar-benar ada uangnya. Niscaya aku akan bingung bukan kepalang.

Menghitung perhitungannya saja aku terkadang kebingungan. Belum lagi saldo yang tidak balance. Apalagi ditambah menghitung uangnya. Pasti aku akan kebingungan. Meskipun begitu, Akuntansi adalah mata pelajaran yang aku sukai ketika aku masih di SMK. Oleh karena itu, aku ingin melanjutkan pengetahuanku mengenai akuntansi di jenjang perguruan tinggi ini. Aku merasakan kesenangan tersendiri dengan kumpulan angka-angka yang menarik itu. Perhitungannya jelas. Rumus-rumusnya juga jelas. Misalnya, saat kita membeli suatu mesin. Tenti saja, kalau kita ingin membeli sesuatu barang, maka uang kita akan berkurang (Termasuk asset lancar yaitu kas). Dan kita akan mempunyai mesin baru yang biasa di sebet asset (Asset yang bertambah yaitu asset tetap, mesin). Mudah sekali mempelajari akuntansi. Saat kita mengerjakan, anggap saja perusahaan itu adalah milik kita. Dan saat mengerjakannya, anggap pula kita sedang mengerjakan laporan perusahaan kita sendiri.

Dengan begitu, belajar akan lebih menyenangkan. Jika kamu mendapati ketidakseimbangan pada saldonya, lebih baik lanjutkan pekerjaannya esok hari. Sungguh, aku akan malas untuk melanjutkan pekerjaanku jika saldonya tidak balance. Bukan bermaksud menunda-nunda. Tapi aku ingin mengistirahatkan pikiran. Berharap, esok pikiranku akan segar kembali. Dan bisa meneliti pekerjaaanku. Salah satu kelemahanku adalah, kurangnya ketelitian dan kecermatan dalam mengerjakannya. Meskipun aku memahami materinya, kecermatan sangat penting dalam mengerjakannya. Mataku pun sudah mulai membengkak karena kelelahan aku ajak begadang. “Lebih baik, aku selesaikan besok malam saja.” Kataku sambil menutup buku. Aku langsung membaringkan tubuhku di atas ranjang. “Nay, saldonya berapa?” Tanya Rini. “Aku belum selesai, Rin.” Jawabku setelah menyedot es teh yang ada dalam gelas plastik. “Ngapain sih, rame-rame?” Tanya Nana. “Na, saldo soal akuntansinya Bu Priska berapa?” Tanya Rini. Ia adalah temanku yang kurang begitu paham dengan pelajaran akuntansi. Tapi aku salut dengan semangatnya. Ia selalu bertanya padaku, jika ia selesai mengerjakannya. Berusaha untuk mencocokkan, dan jika jawabannya berbeda dan salah. Ia akan segera membenahinya.

Pernah suatu kali, ia datang pagi-pagi ke kosku untuk mencocokkan pekerjaannya yang salah. Sekarang ia tampak kebingungan sekali. Yang ngerti akuntansi saja belum selesai mengerjakannya. Aku bisa melihar raut wajah kepanikan dari sikapnya. “Jangankan mengerjakannya, soalnya saja aku tidak tahu…,” Jawab Nana dengan santai dan terlihat tanpa beban. Tapi, mereka adalah teman-teman yang selalu memberiku semangat. Teman-teman yang selalu membuatku tersenyum. Mengobati kerinduanku terhadap ibu dan bapak. Usai mengerjakan soal akuntansi, aku membereskan buku-buku di rak yang berantakan. Akupun memasukkannya ke dalam kardus agar rakku tidak penuh dengan buku. Tiba-tiba aku menemukan kotak berwarna cokelat. Aku ingat, ini adalah kotak kue yang dulu pernah aku berikan untuk ibuku. Tepat di hari ibu dan di hari ulang tahun ibuku. Aku langsung menuju kalender yang menempel di dinding kamarku. Mataku terus berjalan mencari bulan, kemudian mencari hari. Mataku pun kemudian berjalan menuju Kotak yang bertuliskan angka. Tampak angka 12. Kurang sepuluh hari adalah hari ibu dan tepat ulang tahu ibuku.Aku kemudian duduk di atas kasur. Aku terus mengamati kotak kue dari kardus itu.

Aku sengaja menghias kotak itu dengan kertas dan daun kering, agar terlihat cantik dan menarik. Seperti membuat herbarium, waktu aku masih SMP dulu. Tugas biologi mengeringkan daun atau mengawetkannya. Aku menata daun-daun kering itu dan menempelkannya pada kardus. Sangat cantik dan cukup mebuat ibuku tersenyum senang dan bahagia. “Ingin sekali aku melihat senyum dan kebahagiaan itu kembali dari raut wajahnnya.” Kataku yang mulai sedih terbawa suasanya. Aku sudah lama tidak pulang ke rumah. Tugasku memberi les dan kegiatan di organisasi cukup membuatku kualahan. Antara tanggungjawab dan kerinduan teramat dalam pada kampung halaman. ‘Aku ingin pulang, ibu.., bapak..,’ Teriakku tertahan. Aku peluk kotak itu erat-erat. Kotak cinta untuk ibu yang mungkin akan aku buat lagi di tahun ini. Kotak Cinta yang selalu aku buat khusus untuk ibuku. Di hari ibu dan dihari ulang tahunnya. Malam minggu ini, langit begitu cerah. Ramai dengan bintang bertebaran di langit.

Hamparan luas bintang terasa kurang lengkap tanpa hadirnya bulan. Seperti kehidupanku. Banyak teman disekelilingku, tapi kehadiran ibukulah yang paling berharga dalam hidupku. Membuat hidupku jauh lebih lengkap. Angin malam menerpa kulitku, terasa dingin hingga menusuk tulang. Seketika bulu-bulu di kaki dan tanganku langsung berdiri, meski berbalutkan jaket dan rok panjang. Aku lantas menarik resleting jaketku ke atas. Agar dinginnya angin malam tidak mengusikku. Aku mulai berpikir untuk memberikan sesuatu yang berkesan di hati ibuku. Momen yang aku nanti-nantikan. Aku ingin memberikan kotak cinta itu untuk ibu. “Kira-kira, aku ingin mengisi kotak itu dengan apa, ya?” pikirku. “Nay, ngelamun apa, sih?” Tanya Rini. “Ah.., tidak, Rin. Aku tidak melamun, kok.” Jawabku. Dibilang kaget, aku jawabnya juga santai. Dibilang tidak kaget, masih mikir juga untuk menjawab pertanyaan Rini. “Sabtu depan pulang, kan?” Tanya Rini. “InsyaAllah.., semoga di kampus tidak ada acara dan kegiatan. Aku ingin pulang, Rin. Aku kangen ibu dan bapak. Terutama Nila adikku. Sudah lama aku tidak pulang dan berkumpul mereka.” Kataku berbagi beban di pundak ini pada sahabatku. “Aku tahu, Nay. Kalau kamu mau, kamu pakai saja uangku dulu untuk pulang.” Rini menawarkan bantuan. “Tidak usah, Rin. Kamu kan juga butuh uang untuk pulang.” Aku berusaha menolaknya. “Tidak apa-apa, Nay. Aku sabtu depan ada acara di kampus. Jadi, aku tidak pulang.” Rini menjelaskan.Aku pun terdiam sejenak untuk memikirkan tawaran Rini. Antara senang dan perasaan tidak enak pada Rini. Senang karena aku bisa pulang dan bertemu dengan ibu, bapak, dan Nila. Tapi, Rini sudah terlalu banyak menolongku. “Bagaimana, Nay?” Tanya Rini kembali, meminta kepastianku. “Iya, Rin.” Aku pun menerima bantuan itu. Karena aku ingin sekali bertemu dengan ibu.

Hari ini, aku pulang dengan hati yang berkecamuk perasaan sedih. Mukaku terlihat nanar, dan air mata sudah mengumpul di ujung mata. Aku tak bisa pulang sabtu depan. Ada kegiatan organisasi yang harus aku selesaikan. Penggalangan dana untuk saudara-saudara yang sedang tertimpa masalah di Gaza, akan diadakan sabtu depan. Dengan perasaan sedih, aku harus mengikhlaskan. Aku sebagai penanggung jawab, tidak mungkin lari begitu saja. Dimana integritasku jika aku pergi meninggalkan tanggungjawab itu? Dimana, Nay. Aku mengambil kotak cinta itu. “Ibu, Selimut ini tidak akan datang di hari ulang tahun ibu.” Aku memandangi kotak yang berisikan selimut berwarna biru. Aku ingin ia menemani malam-malamnya. Aku ingin kehangatan melindungi tubuhnya. Aku ingin selalu ada di dalam mimpi-mimpinya. Aku tutup kembali kotak itu, dan kusimpan kembali dalam lemari. “Apa itu, Nay?” Tanya Rini, heran terhadap kotak itu. “Ini hadiah ulang tahun ibuku” Jawabku dengan nada parau. “Aku tahu, kamu tidak bisa pulang sabtu depan. Kamu sabar, ya..!” Rini menepuk bahuku. “Iya..” Jawabku dengan senyum yang sedikit aku paksakan. Usai melakukan penggalangan dana, aku langsung pulang. Dari pagi, aku dan teman-teman sudah terjun di jalannan.

Membagi-bagikan bendera dan brosur, di tengah terik matahari yang cukup panas. Kepalaku pusing, akibat terlalu lama berada di bawah terik matahari. Kakiku terasa sakit dan memerah. Kakiku juga melepuh dan berair. Karena tadi siang aku lupa memakai kaos kaki. Aku langsung membaringkan tubuhku di atas ranjang. Aku merasakan timangan kasur nan empuk di kamarku. Perlahan-lahan, diriku dibawa terbang ke awan. Menyusuri pulau nan indah bersama ibuku. Kami sekeluarga terlihat gembira dan begitu menikmati. Aku melihat senyum yang begitu natural, senyum yang terpancar dari hati. Sesuatu yang ibu ekspresikan dengan tulus. Aku begitu senang melihat ibu bahagia. “Buatlah ibu bangga, Nay. Jangan biarkan orang lain merendahkan dan meremehkan kita. Aku yakin kamu pasti bisa membuat ibu tetawa dan bahagia lebih dari hari ini.” Kata ibu memegang telapak tanganku. Tangannya begitu hangat. Aku hanya memandang senyum yang masih merekah dari kedua bibir ibuku. Tatapanku penuh tanya, dan otakku terus berpikir. Bukankah aku melihat tawa yang begitu lepas. Tapi ibu menginginkan kebahagian yang lebih dari hari ini. ‘Aku memang belum bisa membahagiakanmu, Bu. Engkau selalu berbohong dibalik senyummu. Seolah-olah, engkau sudah merasa bahagia dengan apa yang ada. Tapi, kebohongan yang engkau sembunyikan terlihat nyata. Engkau selalu merasa gembira, untuk menyembunyikan kesedihan.

Engkau merasa sehat dengan menyembunyikan sakitmu. Aku ingin engkau bahagia, lebih dari hari ini, hari esok, dan hari esoknya lagi.’ Kata hatiku. Aku akan membahagiakanmu selamanya, bu. Ingin sekali senyum itu nyata dari hatimu, tanpa ada yang engkau sembunyikan. Perlahan-lahan genggaman ibu merosot dari genggamanku. Aku merasa kebingungan, dan mencoba menahannya. Tapi, ujung jariku sudah menyentuk kukunya. Dan tiba-tiba tangan ini sudah tak menggenggam tangannya lagi. “Ibu….,!” Teriakku terkejut. Aku mencoba mengatur nafas dan mencoba memasuki duniaku yang sebenarnya. Lelah dan kerinduan telah mengantarkanku pada mimpi bertemu dengan ibu. Dan kotak itu secara tiba-tiba melintas di dalam pikiranku dan hinggap di sana. Hari ini, bulan terlihat diantara bintang-bintang. “Andaikan aku ada disamping ibu, aku akan sangat bahagia.” Kataku sambil memandangi langit. Aku buka kotak yang ada di pangkuanku. Ternyata, selimut ini tak bisa menghangatkan malamnya hari ini. Hari ulang tahunnya, dan hari ibu. Bagiku, hari ibu ada di setiap hari dalam hidupku. Seperti hari-hari yang selalu ada do’a untuku, anaknya.

Aku menarik selembar kertas dari bukuku. Tanganku dengan lincah menari-nari di atas kertas itu, merangkai kata-kata. Padahal aku bukan seorang pujangga. Tak perlu menjadi seorang pujangngga. Hanya karena cinta, kata-kata indah akan tercipta dengan sendirinya. Meskipun kata-kata cinta untuk ibu tidak seindah kata-kata cinta kahlil gibran, dan tak seindah syair-syair Chairil anwar. Aku yakin, ibu bisa merasakan betapa aku sangat mencintainya. “Aku berjanji, Bu. Meski ibu mengucapkannya dalam mimpi. Aku yakin, itu adalah apa yang selama ini ibu harapkan. Apa yang selama ini ibu tunggu-tunggu. Aku akan membuat ibu bahagia. Lebih dari hari ini dan hari selanjutnya. Selimut ini akan menghangatkan malam-malam ibu. Jika Nayla pulang nanti, bawalah ia untuk menemani tidurmu, Bu. Hanya ini yang bisa Nayla berikan. Tak sebanding dengan kehangatan cinta ibu yang selalu menghangatkanku.” Aku menitikkan air mata, dan jatuh dalam kotak itu. Air mataku semakin mengalir deras. Mengingat perjuangan, kasih sayang dan cintanya selama ini. Sekelebat kenanga-kenangan bersama ibu secara bergantian melintas di hadapanku. Seperti diputarnya film yang dipertontonkan untukku. Tapi sayang, air mata yang menetes banyak di dalam kotak tak akan meninggalkan bekas. Andaikan ia bisa berubah menjadi kristal putih nan cantik, pancarkan keindahan seperti kasih sayangnya selama ini.

Aku akan menyertakannya di dalam kotak itu dan menghadiahkannya untuk ibu. Tapi, air mataku tak bisa kusulap menjadi butiran kristal. Hanya ada selimut berwarna biru di dalam kotak. Kotak cinta yang akan aku persembahkan untuk ibuku saat aku pulang nanti. Hanya itu yang bisa aku berikan. Uang dari honor menulis cerpenku. Cerpen yang baru pertama kali diterima oleh redaksi. Untukmu,Bu.., untukmu. “Tunggulah sampai anakmu pulang, Bu. Nayla di sini baik-baik saja. Semoga ibu dapat tersenyum untuk selamanya. Nayla berjanji, Bu.” Aku menghapus air mataku. Aku harus semangat, semangat! Aku menutup kotak itu dan kubawa kedalam kamar. Aku memasukkannya dalam lemari. “Tinggallah di sini sementara, kotakku. Sebentar lagi engkau akan bertemu dengan ibu. Aku tahu, engkau pasti tidak sabar bertemu dengan ibu.” Aku kemudian mengambil hp yang ada di tasku, hp lama pemberian dari keponakan ibu. Tak apalah, dengan hp ini aku bisa mendengarkan lagu ‘Mother How Are You Today’. Setidaknya, lagu ini bisa menjadi penenang jiwaku. Lagu yang ingin aku sampaikan pada ibu. “Tunggu aku pulang, Bu. Aku sangat mencintaimu” Kataku dengan tersenyum di balik kerinduan yang teramat dalam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


CERPEN

SEBUAH HARAPAN MENJADI NYATA

Oleh, Heriyanto,S.H.I.

Pagi yang cerah dengan suara burung yang berkicau. Sinar matahari yang menghangatkan tubuh. Aku terbangun dengan senyum menawan. Pagi hari ini seperti biasa aku berangkat ke sekolah. Di sekolah terasa sangat sepi, hanya ada beberapa murid yang berangkat ke sekolah. Sesampainya di kelas aku melihatnya. Ya melihatnya walau hanya dari jauh. Seseorang yang membuat jantungku berdegup kencang seperti lari marathon.

Dari jauh aku dapat melihatnya tersenyum, senyuman yang menghangatkan hatiku ini. Seandainya aku bisa membuatnya tersenyum dan tertawa seperti yang dilakukan teman-teman yang lain tapi itu hanya sekedar angan-angan yang tak akan terwujud. Aku berharap dapat membuatnya tersenyum. Keesokkan harinya aku melihatnya sedih, melihatnya seperti itu membuat hatiku sakit. Seandainya aku dapat membuatnya tertawa kembali. Saat aku akan ke perpustakaan aku sempat bertemu dengannya. Dan dia hanya melewatiku saja tanpa menyapaku, aku memakluminya karena aku dan dia memang tidak dekat. Toh, mana mungkin dia mengenalku, aku hanya seorang gadis dengan wajah yang tak begitu cantik, aku tidak begitu terkenal di kalangan murid-murid lain.

Aku hanya seorang gadis biasa tak ada keistimewaannya dariku. Ketika dia mulai menjauh aku menengok ke belakang melihatnya berjalan menjauh dariku sebenarnya hatiku sakit melihat itu. Tapi untuk apa aku berharap dia untuk mengenalku. Aku kembali melanjutkan perjalananku ke tujuan awalku, perpustakaan. Akhir-akhir ini sifatnya berubah menjadi dingin dia tak lagi tersenyum walau teman-temannya berusaha untuk membuatnya tertawa. Dan aku tak tahu apa yang membuatnya berubah.

Aku berharap dia tak berubah. Aku ingin mengubahnya menjadi dia yang dulu. Suatu hari aku melihatnya menangis. Melihat itu membuat hatiku serasa ditusuk ribuan jarum. Sakit sekali aku ingin menjadi orang yang menghapus air matanya, membuatnya tertawa lagi tapi itu sulit karena dia tak mengenalku dan mungkin aku tak diharapkannya. Sesaat kemudian aku melihat seorang gadis mendatanginya. Gadis itu berlutut di hadapannya dan menghapuskan air matanya dan dia tersenyum apa yang dilakukan gadis itu dan memeluk gadis itu. Melihat itu hatiku serasa sakit dan jiwa ragaku serasa akan mati.

Seandainya gadis itu aku tapi itu tidak mungkin. Aku berbalik arah dan berjalan menjauhinya. Cairan putih dan bening ini membasahi pipi dan aku tak dapat menghentikannya. Aku mulai menangis dan terisak. Aku melampiaskan dengan berlari ketika sampai di jalan raya aku berlari dan tidak melihat jalanan yang ramai. Tiba-tiba datang sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, mobil itu menghantamku dan membuatku melayang dan jatuh jauh dari mobil itu.

Aku mencium bau amis dan aku yakin itu bau darahku. Aku melihatnya dia ada disini dengan muka panik. Dan aku hanya bisa tersenyum dan tiba-tiba Suasana menjadi gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa. Aku mencium bau obat-obatan dan suara mesin detak jantung. Dan aku melihatnya duduk di samping tempat tidur dengan posisi tangannya menggenggam tanganku dan aku melihatnya tertidur dengan nyaman. Aku ingin membelai rambutnya tapi aku urungkan niatku.

Sesaat kemudian dia terbangun dan aku melihatnya tersenyum. Dia menanyakan keadaanku dan ku jawab aku sudah merasa baikan walau masih terasa nyeri di bagian pinggangku. Aku melihatnya tersenyum senyuman yang aku nantikan hanya untukku. Aku berharap ini hanya mimpi dan aku berharap aku tak terbangun lagi tapi ini nyata aku tidak bermimpi. Akhirnya harapanku tercapai.

Aku bertanya kepadanya kenapa dia bisa ada di sini dia menjawab bahwa dia melihatku berlari dan dia berlari mengikutiku sampai kejadian itu. Aku bersyukur karena dia peduli denganku walau sebatas teman. Tapi aku bersyukur setidaknya aku masih bisa melihatnya tersenyum dari dekat. Dan setelah kejadian itu kami berteman baik. Semoga saja dari pertemanan ini kami bisa berjalan dengan baik.

Heriyanto,S.H.I. Lahir di Seri Tanjung Ogan Ilir Sumatera Selatan 31 Juli 1984, pendidikan S1 sekarang bertugas di SMP Negeri 4 Gantung Kabupaten Belitung Timur Propinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai guru. Prestasi yang pernah diraih Juara 1 lomba guru berprestasi tingkat kabupaten Belitung Timur 2018, Juara 1 lomba guru berprestasi tingkat propinsi Kepulauan Bangka Belitung 2018, finalis lomba guru berprestasi tingkat nasional 2018 dan finalis lomba inovasi pembelajaran tingkat nasional 2019. Email heri.yanto209@yahoo.com. HP/WA 08137388347.

 

 

 

Sabtu, 20 Februari 2021

 






Berhentilah Mengeluh dan Perbanyaklah Bersyukur

Oleh, Heriyanto Helmi, S.H.I.

Orang beriman pasti akan diuji dengan keburukan dan kebaikan selama ia masih hidup. Hal itu tidak lain untuk meningkatkan derajatnya di sisi Allah serta membuatnya menjadi pribadi yang tangguh dan penuh empati terhadap sesama manusia.  Ketika manusia lahir ke dunia, bahkan ketika masih di dalam kandungan, ia sudah mengalami banyak ujian. Ia diuji, misalnya, dengan ibu yang mengandungnya. Apakah sang ibu dengan tulus menjaganya, memberinya asupan yang baik agar tumbuh sehat hingga waktu melahirkan tiba, atau sebaliknya, tak peduli, bahkan dengan tega menggugurkannya karena tak menginginkannya. Bagi orang beriman, hidup sejatinya adalah panggung ujian. Ujian itu tak mesti melulu berbentuk sesuatu yang buruk. Ujian bisa juga sesuatu yang baik. Setelah lahir, manusia makin bertambah ujiannya. Apakah orang tua akan merawatnya atau menelantarkannya, mendidiknya dengan baik atau menyianyiakannya, mensyukurinya atau malah menyesal telah melahirkannya. Semakin dewasa, ujian makin bertambah ketika berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain. Ternyata, tidak semua orang bersikap baik, bahkan ada yang menyakitinya atau berbuat jahat terhadapnya. Ketika orang di uji dengan kesusahan, maka akan timbul rasa mengeluh yang seolah-olah dirinyalah yang mendapat ujian paling berat dari Allah swt.

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini telah menjadi suatu kebiasaan. Kalau Anda termasuk orang yang suka mengeluh maka ketahuilah bahwa kebiasaan mengeluh tidak akan membuat situasi yang anda hadapi menjadi lebih baik, malahan hanya akan menguras energi Anda dan menciptakan perasaan negatif yang tidak memberdayakan diri Anda. Coba tanyakan diri Anda apabila seandainya, Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu mengucapkan kata-kata positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana? Saya yakin jawaban Anda adalah teman yang pertama, karena pada dasarnya semua orang senang berhubungan dengan orang-orang positif yang kata-katanya membangun, menghibur, menguatkan. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita sering mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan atau keinginan kita. Dan Anda perlu sadari bahwa hal ini akan terjadi hampir setiap hari dalam kehidupan yaitu kenyataan yang terjadi seringkali tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

 Jadi cara mengatasinya sebenarnya mudah kita hanya perlu belajar bersyukur dalam segala keadaan yang kita hadapi. Sebagai contoh, jika Anda sering mengeluh dengan pekerjaan Anda, Anda perlu tahu berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia saat ini? Menurut informasi hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak punya pekerjaan, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena jalanan sering macet saat Anda mengemudi, untuk hal ini ketahuilah bahwa ada jutaan orang yang tidak memiliki kendaraan pribadi seperti Anda. Percayalah bahwa di balik semua hal yang kita sering keluhkan pasti ada hal yang dapat kita syukuri.

Para ahli psikologi mengatakan "Sikap bersyukur adalah emosi yang tersehat". Seorang pakar stress bernama Hans Seyle juga berkata, "Sikap bersyukur menghasilkan energi emosional lebih daripada sikap yang lain dalam hidup ini". Yang menarik adalah Anda selalu dapat memilih dalam setiap kejadian yang dihadapi apakah Anda akan mengeluh atau bersyukur. Ada cerita mengenai seorang pengusaha yang terbangun di sebuah rumah sakit dan istrinya yang setia sedang mendampinginya menjalani perawatan. Pria ini berkata pada Istrinya, "Kamu tahu waktu pertama kali kita menikah usaha kita bangkrut dan Engkau ada di sisiku, setelah itu di tahun kedua pernikahan kita harta benda yang telah aku kumpul buat masa depan keluarga kita lenyap dicuri orang namun Kamu masih tetap setia menemaniku. Selanjutnya lagi saat rumah yang telah kita cicil mengalami kebakaran Engkau pun di sisiku juga. Melalui semua itu Kamu selalu di sisiku". Istrinya menjawab, "Ya aku akan selamanya setia berada di sisimu suamiku dalam keadaan apapun".

Pengusaha ini berkata, "Sekarang aku terbaring lemah di rumah sakit, Kamu tetap ada di sisiku". Ia menjawab, "Pasti, aku selalu bersedia ada di sisimu". Kemudian pengusaha ini berkata lagi, "Makanya sekarang aku mulai berpikir bahwa kehadiranmulah yang menjadi pembawa semua kesialan ini". Herannya ada orang-orang tertentu yang memang tidak paham bagaimana cara bersyukur dan orang-orang seperti ini kelihatannya tidak pernah dapat melihat sesuatu hal yang baik ataupun positif karena pandangannya cuma tertuju pada hal yang buruk. Mulai ambil waktu untuk bersyukur setiap hari. Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.

Kalau semakin banyak kita bersyukur atas apa yang kita miliki, maka semakin banyak hal yang akan kita miliki untuk disyukuri. Berarti semakin banyak kita mengeluh atas masalah yang Anda alami, maka jangan heran jika rasanya semakin banyak masalah yang kita alami untuk dikeluhkan. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh, coba beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan kembangkan sikap penuh syukur lalu lihatlah perubahan dalam hidup Anda. Tetap semangat melangkah kedepan dan menjalani hidup.

 

 

 

(CERPEN) Menjemput Impian yang Tertunda

Oleh, Heriyanto,S.H.I.

 

“IMPIAN” hatiku tertegun jika berbicara mengenai hal yang satu ini, takutnya setengah mati jika membicarakannya apalagi melihat kenyataannya yang sungguh mengerikan bagiku. IMPIAN yang selama ini aku punya dan hampir seluruh jiwaku dibuatnya merana, karena ia tak kunjung berubah menjadi kenyataan dan malah dengan setianya hanya menjadi seonggok impian yang hanya tersimpan di otakku saja. Masa kecilku ditemani dengan sejuta impian, mungkin judul sebuah buku “Sang Pemimpi” milik penulis favoritku ADREA HIRATA tepat dengan diriku. Sebuah impian yang lahir dari seorang perempuan kecil yang berasal dari sebuah kampung terpencil, di sebelah utara Tapanuli, Sumatera Utara.

Namanya yang begitu unik yang belum pernah aku dengar dari sekian juta nama di muka bumi ini, akan tetapi itulah desaku, tanah kelahiranku, desa yang jauh dari kebisingan kota, desa yang begitu nyaman dan desa itu juga ikut andil dalam melahirkan anak-anak bangsa Indonesia dengan berjuta impian yang mereka bawa dan mungkin salah satunya adalah aku, yaaa aku. Hanya saja aku tidak seberuntung mereka, yang punya impian yang sama dan lambat laun aku turut menyaksikan mimpi mereka sudah menjadi sesuatu yang nyata. Impian yang terus melekat dan mengikutiku seolah tidak mau pergi sebelum ia berubah menjadi sesuatu. Andai aku bisa berlari memutar waktu, mengulangnya kembali maka aku akan memperbaikinya semampuku.

Tapi apa dayaku? Semua diluar kekuatanku, semua di luar batas kemampuanku. Tetapi betapa sadarnya aku ada yang lebih tahu semua tentang impianku dan ia menyaksikan semua impian–impianku yang akhir–akhir ini mulai kabur bahkan mungkin sudah mulai berlalu. Mengecap bangku kuliah memang sempat kurasakan dan seperti teman-teman lainnya, aku sangat senang dan sangat bergairah menjalani awal-awal masa pekuliahanku itu, meskipun pada akhirnya aku tidak lulus ke universitas negeri di kotaku. Tetapi yang kurasakan saat itu adalah semangat yang meluap–luap, dengan semangat 45, atau mungkin jika ada satu tingkat lagi diatas semangat 45 mungkin itulah semangatku waktu itu. Waktu terus berjalan seperti biasanya, seolah tidak peduli denganku. Waktu yang berlari begitu jauh dan tampakknya begitu enggan menoleh kepadaku yang masih tetap diam di tempatku. Hari-hariku berubah kelam, mentari seolah enggan memperlihatkan wajahnya dan bulan pun seakan tidak mau muncul di hadapanku, bahkan bintang pun terlihat begitu kejam ikut serta menyempurnakan kesedihan yang kualami. Ya itulah yang keadaanku saat itu. Semua mimpi yang aku bina dari sejak kecilku seolah direnggut oleh ketidakadilan, aku hanya bisa menyalahkan diriku, keadaanku, dan menyalahkan sang waktu yang tidak pernah berpihak padaku. Dan sampailah di satu hari, ketika aku mengetahui bahwa sosok yang aku sayangi dan sosok yang selama ini aku banggakan itu harus terkulai lemah dan seolah tak berdaya lagi mendampingiku untuk mewujudkan semua impianku dan itulah pelengkap kerapuhanku.

Tanpa sadar tetes–tetes air bening yang selalu keluar dari mata indahku berubah menjadi teman setia yang menemani hari–hariku, seolah–olah dia ikut meratapi semua kalut dalam hatiku. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mulai mencari sebuah pekerjaan, setidaknya meringankan sedikit beban yang selama ini hanya bertengger di pundak ayahku dan ibuku, walaupun aku sadar semua usahaku itu tidak akan memberikan pengaruh yang berarti namun aku tetap melakoninya. Dan akhirnya aku pun diterima bekerja di sebuah supermarket di daerah jl. suparman Medan. Dari mulai pukul 09.00 s/d 17.00 sore dan aku sangat bersyukur mendapat pekerjaan itu. Pagi sampai sore aku bekerja dan malamnya aku masuk kuliah, beruntung sekali di tempat aku kuliah, ada kelas karyawannya, walau sering sekali aku ketinggalan mata kuliah tetapi itu tak menghalangiku untuk tetap bekerja.

Waktu pun terus berjalan dan masih tetap sama seperti biasanya ia tidak mau menungguku ia berlari begitu saja tanpa menghiraukan aku yang sedang tertatih mengejarnya, tak terasa masa trainingku pun berakhir dan itu artinya aku diterima menjadi salah satu karyawan tetap di supermarket yang terbilang elit di kota ku itu. Hari-hari tetap aku jalani seperti biasa dan hampir tidak berbeda dari hari sebelumnya. Saban hari menggeluti hal yang sama, pagi hari diisi dengan bekerja dan malamnya aku menjalani kuliah, melelahkan sekali. Tetapi aku tetap bersemangat. Pada saat aku sedang menikmati istirahatku yang sangat berarti itu, tiba-tiba seluruh perhatianku dialihkan oleh suara bising ternyata ponsel jadulku berbunyi, dengan tanganku aku mulai meraih ponselku yang tergeletak di sudut tempat tidurku. Hatiku bertanya–tanya siapa gerangan yang berani menggangu istirahatku sore itu, dengan mata yang sedikit berat karena menahan rasa kantuk, aku melirik ponselku, aku tertegun saat aku tahu yang menghubungiku sore itu adalah ibuku, rasa cape dan kantuk yang tadinya sempat menghinggapiku, hilang dalam sekejap saat aku mendengar suara lembutnya mulai mendarat di telingaku, aku sangat rindu sekali pada wanita suci itu. Aku mulai menyimak semua kalimat yang diucapkanya, dengan seksama aku coba mengerti setiap kata yang dikatakannya padaku tubuhku mulai kaku, bibirku kelu dan mulutku diam seribu bahasa dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

Tetapi aku mencoba tenang dan mulai menghibur diriku dan ternyata itulah awal dari semuanya, pikiranku berkecamuk, karena malam itu juga aku harus memutuskan satu keputusan yang jelas-jelas bertentangan dengan semua yang kuharapakan. Kalimat ibuku kembali terngiang di telingaku. Kalimat sederhana yang sarat makna. “nak, mamak gak mampu sendiri boleh tidak mamak bagi sedikit beban ini padamu” Dengan logat batak yang sangat kental ibuku mengucapkan kalimat itu dan dengan hati yang sedikit lega aku memutuskan untuk menemani wanita tulus itu tak tega rasanya hati ini menolak semua permintaan wanita suci itu, aku sangat mengaguminya andai kata malaikat dapat kusejajarkan dengannya, ya itulah “wanita tegar yang pernah kukenal” Dan dengan mantap aku memutuskan berhenti dari pekerjaanku, dengan sedikit berat kulangkahkan kakiku meninggalkan pekerjaanku dan kuliahku dan mulai melupakan setiap impian-impianku yang terlalu tinggi dan terbilang tidak masuk akal, mimpi yang sudah pernah kurajut dan kususun sangat rapi di benakku dan yang kupikirkan saat itu hanyalah. “Kesehatan ayahku dan kebahagiaan ibuku walau aku tahu betul kalau wanita itu tidak bahagia melihat anak bungsunya harus menghentikan pendidikannya, aku tahu dia sangat tersiksa sebelum ia meminta itu kepadaku.

Tetapi tak sedikitpun terbersit di benakku menambah kepedihan hatinya. Hari berganti hari dan seperti biasanya sang waktu telah pergi jauh dan dengan gesit berlalu meninggalkanku yang sedang merajut asa, semua kulalui dengan ikhlas hati dan mulai mencurahkan seluruh perhatianku sepenuhnya kepada sosok yang kukagumi itu, satu pribadi yang tidak pernah menyakitiku ya, dia ayahku. Satu tahun sudah aku menemaninya, tiap malam aku dan ibuku melaluinya dengan rasa takut, takut kehilangan ayahku malam itu tetapi Tuhan masih memberikan dia kesempatan hidup walaupun tidak begitu panjang dan akhirnya tepat hari kamis sore hari di tanggal 14 april 2008 ayahku menghembuskan napas terakhirnya, seolah tidak percaya karena hari itu dia begitu tampak sehat.

Di hari terakhirnya itu aku dipaksa untuk tetap tegar sebelum dia meninggal, aku tidak punya firasat sedikitpun, ternyata salah satu lagu kesukaanya yang sempat kulantunkan di sampingnya menghantarnya kepada ketenangan abadi, duniaku serasa berhenti, aku ingin meraung tetapi air mataku sulit rasanya untuk menetes tidak tahu mengapa tapi yang jelas tenggorokanku sakit sekali dan ternyata setelah kusadar air mataku sudah mulai mengering mungkin karena sering menangis. Dan hujan pun turun mengguyur desaku sore itu, seakan–akan ikut meratapi kepergiannya. Pikiranku mulai buyar semangatku kembali sirna. Yang ada di benakku hanya satu “Tuhan tidak adil padaku dan aku merasa Tuhan juga ikut pergi meninggalkanku, tetapi apa dayaku aku hanyalah seonggok daging yang tak mampu merubah kuasaNYA,” Aku belajar ikhlas walau sangat berat bagiku untuk jauh darinya, perpisahan memang menyebalkan.

Aku hanya bisa berdoa dan meratapi kepergiannya dan berharap Tuhan memberikanku satu kekuatan dari sisa–sisa kekuatanku untuk tetap bertahan mengahadapi hal–hal yang tidak bisa kuubah dengan tanganku yang lemah ini. Selang berjalannya waktu aku kembali mencoba menapaki kehidupanku, kembali kulangkahkan kakiku yang sempat terhenti rasanya ingin masuk ke dalam mimpi dan tinggal di sana selamanya, tetapi aku tidak bisa mengelaknya inilah hidup, hidup dalam kenyataan bukan dalam bayang–bayang dan dengan kepala yang terangkat aku mulai mengumpulkan sisa–sisa kekuatanku dan kembali merapikan puing–puing semangatku yang sudah berantakan dan nyaris tak bersisa, tetapi dengan dukungan ibuku aku mampu melewati semua badai dalam hidupku, meskipun dalam waktu yang lama aku berada dalam lubang keterpurukan, benar kata ibuku dunia ini memang lembah air mata, itulah alasan mengapa aku masih tetap berdiri hingga sekarang dan tetap berani hidup dan andai saja seisi laut adalah tinta dan seluruh cakrawala adalah kertasnya, itu semua tidak akan mampu melukiskan betapa dalamnya, tingginya dan luasnya kasih sayang Tuhan dalam hidupku.

Kalau mungkin tidak ada Tuhan mungkin aku sudah berada dalam barisan orang–orang yang putus asa dan tak berpengharapan, di lembah keterpurukanku sekalipun Dia tetap menunjukkan cintaNya. Dan kasihNya itu mampu merubah cara pandangku tentang “arti kehidupan”. Kaki harus terus berjalan dan berlari bila perlu, selamat bertemu kembali denganmu, “hai impianku yang sempat tertunda,” Aku kembali lagi menata impianku aku tidak akan membiarkannya terkubur dan sampai membusuk, impianku harus kuperjuangkan kembali, tidak akan kulepas lagi, banyak hal yang harus kupertaruhkan untuk semua impianku dan inilah pandanganku tentang IMPIAN. Aku mulai mengerjakan impianku, mungkin dengan berani “menulis” ini aku sudah memulai langkah awalku untuk meraih semua mimpi-mimpiku, kejar terus impianmu, tidak peduli mimpimu kecil ataupun besar yang terpenting adalah beranilah “mengerjakan mimpimu itu, jangan berhenti, sampai impianmu menjadi “SESUATU”. Jangan tunggu, segeralah, KERJAKANLAH IMPIANMU.

 

 

 

 

 

 

 

Membangkitkan Budaya Literasi di Masa Pandemi

Oleh,

Heriyanto Helmi,S.H.I.

Guru SMP Negeri 4 Gantung

 

Hingga saat ini masa pandemi tak kunjung berakhir, bahkan kian meresahkan. Masyarakat tak bisa lagi melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari sehingga banyak yang memilih beraktivitas dari rumah. Belajar dari rumah, bekerja pun dari rumah (work from home). Covid-19 berdampak pada semua bidang, tidak terkecuali aktivitas literasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi merupakan kemampuan menulis dan membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup. Perolehan berbagai informasi pengetahuan tentu saja melalui aktivitas baca tulis.  Ini menandakan bahwa literasi tidak dapat dilepaskan dengan kemampuan berbahasa. Education Development Center (EDC) juga turut menjabarkan pengertian litersi, yakni kemampuan individu menggunakan potensi yang dimilikinya dan tidak sebatas kemampuan baca tulis saja. Budaya berliterasi harus dibiasakan oleh masyarakat karena berliterasi sangat dibutuhkan untuk mengembangkan potensi dan menggali pengetahuan bagi tiap individu. Literasi jangan dipikir hanya untuk menguntungkan negara, tetapi literasi juga merupakan kebutuhan warga. Ada begitu banyak orang yang akhirnya sukses melalui literasi.

Hal ini dapat dilihat dari karya-karya literasi dari penulis atau pengarang hebat, fiksi maupun nonfiksi. Ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap literasi masih sangat kurang. Salah satu faktor pendorong kurangnya minat masyarakat adalah rasa malas. Kebanyakan orang menilai bahwa membaca teks yang panjang adalah hal yang sangat menjenuhkan dan memikirkan ide untuk menulis juga memenatkan kepala, sehingga memilih untuk tidak melakukannya sama sekali. Tak hanya itu, kebanyakan individu lebih senang membaca buku atau tulisan yang banyak gambarnya. Hal seperti ini perlu dievaluasi, kita harus memperbaiki lagi pemikiran kita mengenai konsep membaca. Pada masa pandemi, aktivitas literasi ikut berpengaruh. Pandemi juga mengubah aktivitas literasi dari kegiatan langsung atau tatap muka ke bentuk daring. Sebelum pandemi ada banyak pelatihan literasi yang dibuka secara umum. Pelatihan tersebut yang semula diadakan secara terbuka kini berganti melalui daring. Sebelum pandemi corona melanda, berbagai pelatihan literasi juga sudah dilakukan secara daring, tapi ketika pandemi, aktivitas literasi ini pun semakin sering dilakukan secara daring. Berbagai penyelenggaraan event literasi ditiadakan atau digantikan secara daring.

Pelaksanaan berbagai lomba literasi juga dibatasi karena minimnya anggaran. Covid-19 yang melanda telah membuat anggaran suatu lembaga atau pemerintahan menjadi terbatas. Apalagi pemerintah, banyak angggaran yang harus dialihkan ke penanganan Covid-19. Selain itu, acara seperti bedah film atau bedah buku juga harus dilakukan via daring. Acara yang mengundang penulisnya langsung ini pun tak dapat dilakukan secara langsung. Jika biasanya kita dapat bertemu langsung dan menyaksikan orang hebat itu berbicara, kini kegiatan itu harus kita pendam dalam-dalam dan menggantinya dengan kegiatan video call. Tentunya berbeda, tanggapan para pendengar akan sedikit kurang karena prosesnya dilakukan melalui layar kaca handphone/laptop. Walau demikian, pandemi ini tidak hanya berdampak negatif, tapi juga berdampak positif.  Namun, ada hal positifnya pula, di mana pada masa pandemi yang membuat kita bosan di rumah akan tertarik melakukan kegiatan daring guna mengasah bakat dan mengisi waktu kosong.

Karena hal itu, kegiatan ini juga sedikit demi sedikit dapat membangun budaya literasi dan menjadi wahana mengasah bakat masyarakat. Rasa bosan yang melanda juga mungkin menjadi faktor pemicu bagi orang yang hobi membaca dan menulis. Kejenuhan di rumah telah membuat orang banyak mengakses tulisan melalui media digital untuk menambah pengetahuan atau sekadar hiburan. Bagi penulis berada di rumah merupakan kesempatan yang sangat baik dalam menuangkan ide, gagasan, dan pikiran. Hal ini juga suatu cara bagi penulis untuk mengusir kejenuhan. Mungkin dimulai dengan menulis hal-hal sederhana tentu dengan diawali dengan membaca tulisan orang lain. Kemampuan menulis memang tidak bisa dipisahkan dari ketekunan membaca. Bahkan ada adagium yang menyatakan: penulis yang hebat adalah pembaca yang lahap (membaca apa saja).

Tulisan yang kita buat akan membawa manfaat bagi orang lain. Bisa menambah pengetahuan dan wawasan. Tentu juga menjadi suatu hal yang menginspirasi selain menjadi landasan bagi orang lain dalam bertindak dan berpikir. Intinya, tidak ada karya tulis yang sia-sia.  Kemampuan menulis pastinya tidak hanya didapatkan begitu saja. Kemampuan yang mereka dapatkan telah banyak diasah dan telah melalui proses yang panjang. Nah, berada di rumah merupakan kesempatan yang baik bagi mereka yang hobi menulis untuk berproses dalam menuangkan ide. Semangat literasi dalam menulis juga didukung oleh wadah atau publikasi seperti media massa cetak, media online, blog, media sosial, dan sebagainya. Apalagi media massa koran menyediakan rubrik untuk tulisan masyarakat yang dianggap layak, kemudian ikut dipublikasi.

Hal ini sangat membantu untuk menarik minat penulis dalam berkarya. Tak hanya media cetak, media online juga menyediakan wadah untuk mengembangkan minat dan skill masyarakat dalam hal menulis dan membaca. Seperti blog, di mana kita bisa menulis apa pun yang kita ingikan dan mempostingnya. Kita juga dapat membaca berbagai artikel yang ditulis orang-orang di blognya. Media massa telah menyediakan fasilitas menulis bagi mereka yang senang menulis artikel maupun karya lainnya. Bahkan di era saat ini, untuk memublikasikan tulisan tidak harus merogoh kocek dalam-dalam, karena kita kini tak harus membeli koran atau majalah. Kemudahan digital yang telah ditawarkan saat ini seharusnya dapat kita manfaatkan sebaik mungkin. Bila ada hal positif yang bisa dilakukan, mengapa tidak dilakukan? Berliterasi di masa pandemi merupakan suatu hal yang positif.

Selain akan mendapatkan informasi yang baik, kita juga dapat menghasilkan karya dan mendapat nama. Sehingga, saat masa pandemi berakhir kualitas individual kita menjadi lebih baik bukannya menurun. Rasa malas untuk berlitersi juga bisa kita singkirkan sedikit demi sedikit mulai saat ini. Buatlah lingkungan sekitar menjadi lingkungan dengan kegemaran literasi yang tinggi, dengan memberikan contoh dari diri sendiri, lalu meneruskannya dengan mengajak keluarga dan berlanjut ke kerabat, sahabat, dan masyarakat sekitar. Lingkungan sangat berperan untuk membentuk kesadaran. Hal ini dapat dibantu oleh faktor internal yang didapat dari dalam diri sendiri. Selain itu, juga akan meningkatkan kesadaran masyarakat sedikit demi sedikit mengembangkan budaya literasi, baik di masa pandemi maupun nanti, seusai pandemi. 




 

 

Mengiatkan Literasi Al-Qur’an

Oleh,

Heriyanto, S.H.I.

Wakil Kepala SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur

 

Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi millennial terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.  Era millennial saat ini merupakan tantangan tersediri bagi orang tua untuk menciptakan keluarga yang berkualitas. Teringat nasehat KH. Mudriq Qory, pimpinan Pondok Pesantren Al-Ittipaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumsel, dalam sebuah majelis pernikahan, bahwa tujuan dari sebuah pernikahan itu muaranya adalah menciptakan keluarga yang berkualitas. Itulah yang membedakan kita dengan ummat lain. Kualitas keluarga adalah sebuah tujuan yang dalam bahasa umum disebut Keluarga Sakinah Mawadah Wa Rahmah. Untuk menjadikan keluarga sakinah mawadan wa rahmah maupun keluarga berkualitas banyak hal yang bisa dilakukan. Pernahkah terpikir untuk menjadikan keluarga kita berkualitas adalah dengan cara merawat kebersamaan diantara anggota keluarga? Dan bagaimakah cara yang bisa kita lakukan untuk merawat kebersamaan di tengah era milenial yang kadang menjadikan pertemuan adalah sebuah hal yang sangat mahal?

Penulis punya pengalaman di masa kecil yang kemudian saya terapkan di kehidupan saya saat ini dan saya melihat ini adalah salah satu strategi yang bisa dilakukan para orang tua milenial untuk merawat kebersamaan dengan bonus mempersiapkan imam dalam keluarga anak kita dan membiasakan literasi Al Qur’an di dalam keluarga. Kita tentunya paham semakin anak-anak beranjak besar maka akan semakin sedikit waktu mereka untuk kita. Mereka akan asyik dengan teman dan dunianya. Tentu saja tidak bijak kita menghalanginya karena itulah saat-saat mereka belajar memahami hidup di luar lingkungan rumah dan orang tuanya. Namun menjaga kebersamaan dan komunikasi tetap harus kita lakukan dengan prinsip quality time not quantity time. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan membiasakan mengkaji Al Qur’an setiap habis subuh atau habis salat magrib. Dalam hal ini semua anggota keluarga membaca satu ayat kemudian bapak akan mengartikan dan memberikan penjelasannya. Keluarga penulis dulu khatam Al Qur’an dengan model seperti ini selama 6 tahun.

Meskipun kami ketika ngaji dengan terkantuk-kantuk namun konsistensi bapak dalam memelihara moment ini sangat luar biasa. Disinilah saya mulai memahami bahwa apapun ada jawabannya di Al Qur’an. Disinilah saya mulai paham tentang mahna hidup dan kehidupan yang semuanya ada dalam Al Qur’an. Metode ini sangat luar biasa untuk membangun keluarga yang berkualitas karena setidaknya ada 4 manfaat langsung: Pertama bagi yang memiliki anak laki-laki inilah saatnya kita tidak menjadi orang tua yang jahat terhadap anak karena membiarkan dia terlelap di saat yang paling mulia untuk meraih pahala dunia. Disinilah peran orang tua untuk membiasakan anak-anak sholat lima waktu tepat waktu berjamaah di masjid jika memungkinkan. Bagi seorang anak muda ternyata lebih susah untuk sholat ke masjid ketimbang menuntut ilmu sampai jenjang S3 sekalipun. Padahal sangat jelas dalam hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

 Kedua metode ini sangat efektif untuk melakukan dialog dan menanamkan nilai-nilai agama secara langsung pada anak-anak kita dengan berdasarkan Al Qur’an. Bagi yang memiliki anak laki-laki ini adalah saat yang tepat untuk menyiapkan mereka menjadi imam untuk keluarganya kelak. Bagi yang memiliki anak perempuan inilah saatnya melakukan penanaman nilai-nilai untuk menjadikan dia perempuan sesuai dengan ajaran Al Qur’an. Moment ini sangat luar biasa karena mungkin selama ini pendidikan agama anak-anak kita serahkan pada guru atau TPA. Jika kita bisa memberikan pendidikan langsung kepada anak-anak kita maka salah satu kewajiban kita sebagai orang tua sudah bisa kita laksanakan. Ketiga dengan mengaji termasuk terjemahan dan tafsirnya, maka seorang bapak akan selalu meningkatkan kualitas keilmuannya di bidang agama. Ini adalah pemacu seorang laki-laki untuk menjadi iman yang sesungguhnya bagi anak dan istrinya. Keempat ini adalah saatnya berinteraksi langsung dengan anak-anak kita tanpa ganggunag gadget atau agenda kantor. Jika dalam sehari itu kita tidak memiliki waktu untuk menyapa mereka maka setidaknya kita sudah tahu apa agenda mereka hari ini, dimana dan sama siapa. Kemajuan teknologi, kesibukan yang melanda, minimnya waktu tatap muka bukanlah sebuah alasan bagi kita sebagai orang tua untuk melalaikan anak-anak kita, pendidikannya, agamanya dan masa depannya. Dengan mengenalkan Al Qur’an dan terjemahannya sejak dini dan sebelum mereka menikah adalah bagian dari ikhtiar kita untuk membumikan Al Qur’an pada anak-anak kita. Literasi Al Qur’an bisa dilakukan dengan metode semacam ini yang memiliki manfaat bola salju, bukan hanya pada kualitas pribadinya namun juga menjadi penanda kualitas hubungan kita dengan anggota keluarga. Ibda’ binnafsik, mulailah dari diri sendiri dari yang kecil dan sekarang, untuk membuat generasi yang lebih berkualitas. Khususnya untuk menjamin anak-anak kita tidak akan menjadi anak-anak yang lemah sebagaimana firman Allah dalam QS.[4].An Nisaa‘: 9 “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. Dengan adanya kegiatan rutin literasi Al-Qur’an yang digiatkan dalam sebuah keluarga secara otomatis akan berpengaruh terhadap perilaku anak-anak dalam kehidupan di era milenial sekarang ini,semoga.

 

 

 

 

Inovasi Guru di Tengah Pandemi Covid 19

Oleh,

Heriyanto, S.H.I.

Guru SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur

 

 

Peristiwa inspiratif dapat kita petik dari tragedi jatuhnya bom di Nagasaki dan Hiroshima, Jepang. Ketika bom atom menghancurkan dua kota tersebut, hal yang pertama kali ditanyakan oleh kepala negara Jepang yakni apakah masih ada guru dan buku yang tersisa? Hal itu mencerminkan betapa pentingnya keberadaan guru bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Sebab, guru merupakan pengemban ilmu yang berisi ribuan mahkota pengetahuan. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah namun juga ditopang oleh sumber daya manusia yang mumpuni. Salah satu pilar penting kemajuan sebuah bangsa adalah kehadiran guru. Hal ini secara historis telah dicontohkan oleh Jepang sehingga bisa menjadi Negara maju dan adidaya. Lalu bagaimana dengan peran guru di Indonesia? Di Negara yang gemah ripah loh jinawi ini guru juga memiliki posisi sentral. Proses pendidikan tidak bisa dilepaskan dari peran guru. Guru menjadi garda terdepan dalam proses pendidikan. Tanpa guru, rasanya akan sulit bangsa Indonesia membuat konversi tingkat melek huruf dari 5% menjadi 92%.

Tanpa guru, akan sulit membayangkan lahirnya generasi berkualitas di Indonesia. Guru dan Arus Teknologi. Tanpa bisa terhenti, modernitas terus melangkah. Zaman telah berubah. Kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan. Di abad ke-21 ini, kita selalu dimanjakan dengan berbagai macam keinstanan. Mencari suatu informasi bukan hal yang sukar di zaman ini. Melalui gawai dalam genggaman, beragam pengetahuan dari seluruh dunia akan berdatangan ke hadapan kita. Kemajuan teknologi dan pendidikan begitu erat berkaitan. Pendidikan dengan segala hal yang bertemali dengannya, termasuk teknologi, terus mengalami perkembangan seiring laju zaman. Perkembangan dan perubahan yang terjadi mencakup beberapa aspek. Mulai dari yang bersifat kebijakan hingga pada perkembangan tataran pelaksanaan pembelajaran.

Perubahan yang menyentuh beragam aspek itu tentu berdampak pada semua pihak. Guru menjadi salah satu pihak yang terdampak. Guru merupakan garda terdepan dalam tataran pelaksana pendidikan. Perannya amat vital. Kualitas dari sumber daya manusia dari hasil proses pendidikan, sangat bergantung pada peran seorang guru. Oleh karena itu, guru menjadi bagian sentral dan penting dalam kemajuan dan peningkatan kualitas pendidikan. Setiap zaman selalu punya anak zamannya sendiri. Begitu pula dengan zaman di abad ke-21 ini. Guru yang mengajar siswa di era ini tentu harus terus berbenah. Kemajuan teknologi merupakan suatu hal yang harus diikuti oleh seorang guru. Guru harus bisa mengubah paradigma kemajuan teknologi dari sebuah hambatan dan kesusahan menjadi peluang dan kemudahan. Kreasi dan inovasi seorang guru akan lebih terbantu dengan hadirnya perangkat teknologi yang beraneka rupa.

Guru yang kreatif dan inovatif serta kaya akan pengetahuan merupakan guru yang sangat diharapkan oleh siswa-siswanya. Namun jangan lupa, tugas guru bukan hanya mengajar saja. Lebih penting dari itu, guru harus mendidik. Mendidik tidak sama dengan mengajar. Hakikat mendidik memiliki makna dan implikasi lebih luas dan kompleks dari sekadar mengajar. Mendidik bertujuan membentuk siswa yang memiliki keseimbangan kekuatan spiritual, kepribadian, dan sosial. Inilah yang rasa-rasanya menjadikan posisi guru begitu berharga dan mulia. Hal itu menjadikan profesi guru belum mampu digantikan oleh apapun. Bahkan, ketika abad ke-21 menawarkan robot dan mesin-mesin untuk mengganti berbagai profesi, peran guru tetap tidak bisa terganti. Benda-benda itu memang bisa mengajar dan memberikan ilmu. Tetapi, mereka tidak bisa mendidik siswa. Mesin-mesin dan robot-robot itu hanya dibekali dengan kecerdasan buatan (IA), tetapi tidak dengan hati buatan. Guru mengajarkan budi pekerti kepada siswa melalui contoh berupa tingkah laku yang mulia. Tapi, mesin-mesin itu tak akan mungkin bisa melakukannya.


Guru di Tengah Pandemi

Dunia, termasuk Indonesia, beberapa bulan ini dikepung oleh virus corona. Hal ini memmbuat berbagai kegiatan dirumahkan, termasuk kegiatan pendidikan. Siswa harus belajar di rumah dan guru harus mengajar dari rumah. Mereka hanya bisa bertatap muka melalui dunia maya. Di tengah pandemi virus corona, kemajuan teknologi seakan menemukan momentumnya. Dampak kemjuan teknologi nampak begitu terasa dan berguna. Perangkat-perangkat teknologi begitu membantu, memberikan akses pada kegiatan belajar mengajar. Inovasi dan kreativitas guru seolah sedang di uji di tengah wabah virus corona ini. Guru harus mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Bukan sekadar pembelajaran yang membebankan siswa dengan bermacam penugasan. Namun sayangnya, hal tersebut masih jamak ditemukan. Lepas dari problem itu, pandemi ini semakin mengukuhkan peran guru dalam proses pembelajaran. Guru masih begitu dibutuhkan di tengah arus deras gelombang kemajuan teknologi. Hal ini nampak dari cuitan beberapa orang tua yang kewalahan memandu anaknya dalam kegiatan belajar secara mandiri. Padahal, kanal-kanal belajar telah banyak tersebar di dunia maya. Namun, peran guru sebagai seorang pendidik dan pengajar tetap yang utama.

 

Biodata Penulis:

Nama                                       : Heriyanto,S.H.I.

Tempat dan Tanggal Lahir      : Seri Tanjung, 31 Juli 1984

Pekerjaan                                 : Guru

Tempat Tugas                          : SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur Babel