Membangkitkan Budaya Literasi di Masa Pandemi
Oleh,
Heriyanto Helmi,S.H.I.
Guru SMP Negeri 4 Gantung
Hingga saat ini masa pandemi tak
kunjung berakhir, bahkan kian meresahkan. Masyarakat tak bisa lagi melaksanakan
kegiatan rutin sehari-hari sehingga banyak yang memilih beraktivitas dari
rumah. Belajar dari rumah, bekerja pun dari rumah (work from home). Covid-19
berdampak pada semua bidang, tidak terkecuali aktivitas literasi. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi merupakan kemampuan menulis dan
membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan
hidup. Perolehan berbagai informasi pengetahuan tentu saja melalui aktivitas
baca tulis. Ini menandakan bahwa literasi tidak dapat dilepaskan dengan
kemampuan berbahasa. Education Development Center (EDC) juga turut menjabarkan
pengertian litersi, yakni kemampuan individu menggunakan potensi yang
dimilikinya dan tidak sebatas kemampuan baca tulis saja. Budaya berliterasi
harus dibiasakan oleh masyarakat karena berliterasi sangat dibutuhkan untuk
mengembangkan potensi dan menggali pengetahuan bagi tiap individu. Literasi
jangan dipikir hanya untuk menguntungkan negara, tetapi literasi juga merupakan
kebutuhan warga. Ada begitu banyak orang yang akhirnya sukses melalui literasi.
Hal ini dapat dilihat dari karya-karya
literasi dari penulis atau pengarang hebat, fiksi maupun nonfiksi. Ketertarikan
masyarakat Indonesia terhadap literasi masih sangat kurang. Salah satu faktor
pendorong kurangnya minat masyarakat adalah rasa malas. Kebanyakan orang
menilai bahwa membaca teks yang panjang adalah hal yang sangat menjenuhkan dan
memikirkan ide untuk menulis juga memenatkan kepala, sehingga memilih untuk
tidak melakukannya sama sekali. Tak hanya itu, kebanyakan individu lebih senang
membaca buku atau tulisan yang banyak gambarnya. Hal seperti ini perlu
dievaluasi, kita harus memperbaiki lagi pemikiran kita mengenai konsep membaca.
Pada masa pandemi, aktivitas literasi ikut berpengaruh. Pandemi juga mengubah
aktivitas literasi dari kegiatan langsung atau tatap muka ke bentuk daring.
Sebelum pandemi ada banyak pelatihan literasi yang dibuka secara umum.
Pelatihan tersebut yang semula diadakan secara terbuka kini berganti melalui
daring. Sebelum pandemi corona melanda, berbagai pelatihan literasi juga sudah
dilakukan secara daring, tapi ketika pandemi, aktivitas literasi ini pun
semakin sering dilakukan secara daring. Berbagai penyelenggaraan event literasi
ditiadakan atau digantikan secara daring.
Pelaksanaan berbagai lomba literasi juga
dibatasi karena minimnya anggaran. Covid-19 yang melanda telah membuat anggaran
suatu lembaga atau pemerintahan menjadi terbatas. Apalagi pemerintah, banyak
angggaran yang harus dialihkan ke penanganan Covid-19. Selain itu, acara
seperti bedah film atau bedah buku juga harus dilakukan via daring. Acara yang
mengundang penulisnya langsung ini pun tak dapat dilakukan secara langsung.
Jika biasanya kita dapat bertemu langsung dan menyaksikan orang hebat itu
berbicara, kini kegiatan itu harus kita pendam dalam-dalam dan menggantinya
dengan kegiatan video call. Tentunya berbeda, tanggapan para pendengar akan
sedikit kurang karena prosesnya dilakukan melalui layar kaca handphone/laptop. Walau
demikian, pandemi ini tidak hanya berdampak negatif, tapi juga berdampak
positif. Namun, ada hal positifnya pula, di mana pada masa pandemi yang
membuat kita bosan di rumah akan tertarik melakukan kegiatan daring guna
mengasah bakat dan mengisi waktu kosong.
Karena hal itu, kegiatan ini juga
sedikit demi sedikit dapat membangun budaya literasi dan menjadi wahana
mengasah bakat masyarakat. Rasa bosan yang melanda juga mungkin menjadi faktor
pemicu bagi orang yang hobi membaca dan menulis. Kejenuhan di rumah telah
membuat orang banyak mengakses tulisan melalui media digital untuk menambah
pengetahuan atau sekadar hiburan. Bagi penulis berada di rumah merupakan
kesempatan yang sangat baik dalam menuangkan ide, gagasan, dan pikiran. Hal ini
juga suatu cara bagi penulis untuk mengusir kejenuhan. Mungkin dimulai dengan
menulis hal-hal sederhana tentu dengan diawali dengan membaca tulisan orang
lain. Kemampuan menulis memang tidak bisa dipisahkan dari ketekunan membaca.
Bahkan ada adagium yang menyatakan: penulis yang hebat adalah pembaca yang
lahap (membaca apa saja).
Tulisan yang kita buat akan membawa
manfaat bagi orang lain. Bisa menambah pengetahuan dan wawasan. Tentu juga
menjadi suatu hal yang menginspirasi selain menjadi landasan bagi orang lain
dalam bertindak dan berpikir. Intinya, tidak ada karya tulis yang sia-sia.
Kemampuan menulis pastinya tidak hanya didapatkan begitu saja. Kemampuan yang
mereka dapatkan telah banyak diasah dan telah melalui proses yang panjang. Nah,
berada di rumah merupakan kesempatan yang baik bagi mereka yang hobi menulis
untuk berproses dalam menuangkan ide. Semangat literasi dalam menulis juga
didukung oleh wadah atau publikasi seperti media massa cetak, media online,
blog, media sosial, dan sebagainya. Apalagi media massa koran menyediakan
rubrik untuk tulisan masyarakat yang dianggap layak, kemudian ikut dipublikasi.
Hal ini sangat membantu untuk menarik
minat penulis dalam berkarya. Tak hanya media cetak, media online juga
menyediakan wadah untuk mengembangkan minat dan skill masyarakat dalam hal
menulis dan membaca. Seperti blog, di mana kita bisa menulis apa pun yang kita
ingikan dan mempostingnya. Kita juga dapat membaca berbagai artikel yang
ditulis orang-orang di blognya. Media massa telah menyediakan fasilitas menulis
bagi mereka yang senang menulis artikel maupun karya lainnya. Bahkan di era
saat ini, untuk memublikasikan tulisan tidak harus merogoh kocek dalam-dalam,
karena kita kini tak harus membeli koran atau majalah. Kemudahan digital yang
telah ditawarkan saat ini seharusnya dapat kita manfaatkan sebaik mungkin. Bila
ada hal positif yang bisa dilakukan, mengapa tidak dilakukan? Berliterasi di
masa pandemi merupakan suatu hal yang positif.
Selain akan mendapatkan informasi yang
baik, kita juga dapat menghasilkan karya dan mendapat nama. Sehingga, saat masa
pandemi berakhir kualitas individual kita menjadi lebih baik bukannya menurun.
Rasa malas untuk berlitersi juga bisa kita singkirkan sedikit demi sedikit
mulai saat ini. Buatlah lingkungan sekitar menjadi lingkungan dengan kegemaran
literasi yang tinggi, dengan memberikan contoh dari diri sendiri, lalu
meneruskannya dengan mengajak keluarga dan berlanjut ke kerabat, sahabat, dan
masyarakat sekitar. Lingkungan sangat berperan untuk membentuk kesadaran. Hal
ini dapat dibantu oleh faktor internal yang didapat dari dalam diri sendiri. Selain
itu, juga akan meningkatkan kesadaran masyarakat sedikit demi sedikit
mengembangkan budaya literasi, baik di masa pandemi maupun nanti, seusai
pandemi.







oke
BalasHapus